Senin, 14 September 2015

Figur Ke-4 : Shafiyyah bintu Huyai رضي الله عنها

🎀Figur Shalihah Panutan Wanita Shalihah🎀

🌹Inilah dia wahai ibu...
Figur Wanita Shalihah,
Sebaik-baik cermin...
🔎Untuk kita berkaca padanya...

🌅 Figur Ke-4⃣

🌸〰🌸 Shafiyyah bintu Huyai رضي الله عنها🌸〰🌸
🍥〰 Cinta dari Tanah Khabair

✏(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Abdirrahman bintu Imran)

🌇Benteng-benteng Khaibar menyisakan kemenangan bagi kaum muslimin setelah terkepung selama 20 hari. Pasukan Rasulullah صلى الله عليه وسلم tak hanya pulang membawa kegemilangan, namun juga membawa cinta seorang wanita, Shafiyyah bintu Huyai رضي الله عنها.

🌈Tergurat dalam sejarah perjalanan hidup manusia, pada tahun ketujuh setelah hijrah, Allah سبحانه وتعالى membukakan Khaibar bagi pasukan Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Di sana terbentang kebun-kebun kurma yang menjadi harta rampasan yang sangat berharga. Sementara para wanita Yahudi Bani Nadhir menjadi tawanan di tangan kaum muslimin.

🌺Di antara mereka ada seorang wanita berparas cantik, putri pemimpin Bani Nadhir. Wanita itu bernama Shafiyyah bintu Huyai bin Akhthab an-Nadhiriyah رضي الله عنها. Wanita mulia dari keturunan Nabi Allah, Harun bin ‘Imran, saudara Musa bin ‘Imran عليهما السلام. Ibunya bernama Barrah bintu Samual. Wanita itu baru saja melangsungkan pernikahannya dengan Kinanah bin Abil Huqaiq, salah seorang penyair dari kalangan Yahudi, setelah sebelumnya menjanda dari suaminya, Salam bin Misykam. Namun bara peperangan Khaibar telah merenggut Kinanah dari sisinya. Usai peperangan, Dihyah al-Kalbi meminta kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم, “Wahai Rasulullah, berikanlah kepadaku seorang tawanan wanita.” Rasulullah صلى الله عليه وسلم menjawab, “Pergi dan ambillah!” Dari sekian tawanan wanita, Dihyah menjatuhkan pilihannya pada Shafiyyah رضي الله عنها.

💐Sementara itu, kabar tentang kecantikan Shafiyyah رضي الله عنها merebak di kalangan kaum muslimin, hingga orang-orang memuji-muji Shafiyyah رضي الله عنها di hadapan Rasulullah صلى الله عليه وسلم, “Tidak ada di antara para tawanan yang secantik dia". Saat itu, di antara para sahabat ada yang menyampaikan kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم,
“Wahai Rasulullah, tidak ada yang pantas memiliki Shafiyyah kecuali engkau". Rasulullah صلى الله عليه وسلم pun kemudian memanggil Dihyah bersama Shafiyyah رضي الله عنها. Kala itu, beliau melihat Shafiyyah, kemudian memerintahkan kepada Dihyah untuk mengambil salah seorang tawanan yang lain.

📆Tercatatlah sebuah peristiwa berharga. Pada bulan Ramadhan tahun ketujuh setelah hijrah, Rasulullah صلى الله عليه وسلم memerdekakan Shafiyyah رضي الله عنها dan menikahinya dengan mahar kemerdekaan dirinya.

💄Setelah itu, pasukan kaum muslimin pun bergerak menempuh perjalanan pulang menuju Madinah. Di tengah perjalanan, pasukan ini singgah di Saddus Shahba’, suatu tempat di antara Khaibar dan Madinah. Rasulullah صلى الله عليه وسلم menyerahkan Shafiyyah kepada Ummu Sulaim رضي الله عنها, sambil berpesan, “Riaslah dia".

⛺Malam di persinggahan itu menjadi milik Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersama Shafiyyah رضي الله عنها. Tatkala bertemu dengan Shafiyyah رضي الله عنها, Rasulullah صلى الله عليه وسلم melihat warna lebam kehijauan di mata Shafiyyah رضي الله عنها, hingga beliau bertanya tentang itu.

🌙🌕Shafiyyah pun bertutur, “Saat itu, aku tengah tidur di pangkuan Kinanah. Aku bermimpi, bulan jatuh di pangkuanku. Ketika terjaga, kuceritakan mimpiku itu kepada Kinanah. Kinanah pun marah dan menempelengku, sembari mengatakan, ‘Engkau mengangan-angankan penguasa Yatsrib(*1 (maksudnya Rasulullah صلى الله عليه وسلم, red.)?’.”

🍯🍞Tiga malam Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersama Shafiyyah رضي الله عنها dalam persinggahan. Pada pagi harinya, beliau berkata kepada para sahabatnya, “Barang siapa yang memiliki sisa perbekalan, berikanlah kepada kami".

🌴🍇Serta merta para sahabat datang. Di antara mereka ada yang datang membawa kurma, ada yang membawa sawiq(*2, kemudian diolah menjadi hais(*3. Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengundang para sahabat untuk makan bersama. Itulah walimah Rasulullah صلى الله عليه وسلم untuk seorang wanita yang mulia, Shafiyyah bintu Huyai رضي الله عنها.

❓❗Mereka mulai bertanya-tanya, apakah Shafiyyah رضي الله عنها termasuk salah satu Ummahatul Mukminin ataukah hanya sebagai sahaya Rasulullah صلى الله عليه وسلم? Di antara mereka ada yang berkata, “Jika Rasulullah صلى الله عليه وسلم memakaikan kepadanya hijab, berarti dia ummul mukminin. Jika tidak, berarti dia hamba sahaya beliau".

🚲 🌄Perhelatan telah usai. Pasukan kaum muslimin bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan ke Madinah. Saat itulah pertanyaan mereka terjawab. Rasulullah صلى الله عليه وسلم menyelubungkan hijab, menutupi Shafiyyah bintu Huyai رضي الله عنها. Lalu Rasulullah صلى الله عليه وسلم berlutut di sisi untanya, memberikan pijakan kepada istrinya untuk naik ke atas tunggangan. Shafiyyah bintu Huyai رضي الله عنها meletakkan kakinya di atas lutut Rasulullah صلى الله عليه وسلم hingga naik dan duduk di atas unta. Kemudian Rasulullah صلى الله عليه وسلم memboncengnya menuju negeri Madinah yang telah menanti kedatangan pasukan kaum muslimin yang membawa kemenangan.

⛅⚡Mulai saat itu, Shafiyyah bintu Huyai رضي الله عنها memasuki rumah tangga Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersama para istri beliau yang lain, dalam bimbingan seorang suami yang mulia, dalam tuntunan cahaya nubuwwah. Terkadang letupan-letupan kecil terjadi di antara para istri Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Pun Shafiyyah bintu Huyai  رضي الله عنها seorang wanita cantik di antara para istri Rasulullah صلى الله عليه وسلم , tak urung mengalaminya pula. 'Aisyah bintu Abu Bakr رضي الله عنها mengatakan kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم , “Wahai Rasulullah, cukuplah engkau dari Shafiyyah. Dia itu seorang wanita yang pendek!”. Mendengar ucapan itu, Rasulullah صلى الله عليه وسلم menegur ‘Aisyah رضي الله عنها  yang telah menodai kehormatan Shafiyyah رضي الله عنها,
“Engkau telah mengucapkan suatu kalimat yang bila tercampur dengan lautan, pasti lautan itu akan tercemari!”.

💦Pada kali yang lain, Rasulullah صلى الله عليه وسلم mendapati Shafiyyah tengah berurai air mata. Manakala melihat istrinya menangis, diiringi dengan kelembutan Rasulullah صلى الله عليه وسلم bertanya, “Apa yang membuatmu menangis, wahai Shafiyyah?”. Shafiyyah mengadukan kesedihannya, “Aku mendengar ‘Aisyah dan Hafshah mencaci diriku dan mengatakan, ‘Kami lebih mulia daripada Shafiyyah di sisi Nabi. Kami putri-putri paman beliau sekaligus istri-istri beliau’.”Rasulullah صلى الله عليه وسلم menjawab, “Mengapa tidak engkau katakan, ‘Bagaimana bisa kalian berdua lebih mulia dariku, sementara suamiku Muhammad, ayahku Harun dan pamanku Musa?".

☔Suatu saat, ketika Rasulullah صلى الله عليه وسلم menderita sakit menjelang wafat beliau, para istri Rasulullah صلى الله عليه وسلم berkumpul di sisi beliau. Kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم , Shafiyyah bintu Huyai رضي الله عنها mengatakan, “Demi Allah, wahai Nabi Allah, sungguh aku bisa merasakan apa yang kau rasakan". Ucapan Shafiyyah رضي الله عنها itu membuat para istri Rasulullah صلى الله عليه وسلم saling mengerdipkan mata, sehingga beliau menegur, “Hendaknya kalian berkumur-kumur!”. Para istri beliau pun merasa heran dan bertanya, “Berkumur-kumur karena apa, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Karena kerdipan mata di antara kalian terhadap Shafiyyah. Demi Allah, dia berkata jujur".

🎀Shafiyyah bintu Huyai bin al-Akhthab رضي الله عنها memang pemilik nasab yang mulia, berdampingan dengan suami yang paling mulia. Wanita ini juga dikenal sebagai wanita yang cerdas, mulia dan amat penyantun. Peristiwa-peristiwa yang dilaluinya menunjukkan ketenangan dan kesantunannya. Bahkan suatu ketika, budak perempuan Shafiyyah mendatangi ‘Umar bin al-Khaththab رضي الله عنه. Dia melemparkan tuduhan terhadap Shafiyyah bintu Huyai رضي الله عنها di hadapan ‘Umar, “Shafiyyah menyukai hari Sabtu(*4 dan memiliki hubungan dengan orang-orang Yahudi". Umar pun kemudian mengutus seseorang untuk menanyakan hal itu kepada Shafiyyah. Shafiyyah رضي الله عنها menjelaskan, “Mengenai hari Sabtu, aku tidak lagi menyukainya semenjak Allah menggantikan bagiku hari Jum’at. Adapun mengenai orang-orang Yahudi itu, aku memiliki hubungan kekerabatan dengan mereka hingga aku menyambungnya". Setelah itu, Shafiyyah رضي الله عنها memanggil budak perempuannya itu dan bertanya, “Apa yang mendorongmu untuk melakukan itu semua?”. Jawab budak perempuan itu, “Setan". Jauh dari sangkaan, jawaban budak itu bukan membuat Shafiyyah bintu Huyai رضي الله عنها berang. Sebaliknya dia mengatakan, “Pergilah, engkau sekarang merdeka".

🚪📑Shafiyyah bintu Huyai bin al-Akhthab رضي الله عنها meriwayatkan ilmu dari suaminya yang mulia, Rasulullah صلى الله عليه وسلم . Banyak orang yang mengambil ilmu itu darinya. Shafiyyah bintu Huyai  رضي الله عنها terus menjalani kehidupannya hingga tiba saat dia harus menghadap Rabb-nya, pada bulan Ramadhan tahun kelima puluh setelah hijrah, dalam masa pemerintahan Mu’awiyah bin Abi Sufyan رضي الله عنهما. Shafiyyah bintu Huyai, semoga Allah سبحانه وتعالى meridhainya….

Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.

📚 Sumber Bacaan :
- al-Ishabah, al-Hafizh Ibnu Hajar al-’Asqalani (7/741)
- al-Isti’ab, al-Imam Ibnu ‘Abdil Barr (4/1871—1872)
- Nashihati lin-Nisa’, Ummu ‘Abdillah al-Wadi’iyyah (hlm. 26—27)
- Shahihus Sirah an-Nabawiyyah, Ibrahim al-’Ali (hlm. 350—352)
- Siyar A’lamin Nubala’, al-Imam adz-Dzahabi (2/231—238)
- Tahdzibul Kamal, al-Imam al-Mizzi (35/210)

👣 Catatan kaki :
1) Yatsrib adalah asal nama kota al-Madinah an-Nabawiyyah.
2) Salah satu jenis gandum.
3) Makanan yang terbuat dari kurma, samin, dan gandum.
4) Hari Sabtu adalah hari yang dimuliakan oleh orang-orang Yahudi.

🔄Disadur dari :
http://asysyariah.com/shaffiyah-binti-huyai-cinta-dari-tanah-khaibar/

🎀مجموعة روضة الأطفال🎀

Bagi yang ingin mengambil faedah dari postingan RA yang telah lalu, antunna dapat mengunjungi blog kami :

🔗 http://tamananakshalih.blogspot.com/ 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar