Selasa, 25 Agustus 2015

Metode Pendidikan Anak Dalam Bentuk Hukuman (Bagian 2)

🌾🌷🌷🌾🌷🌷

Metode pendidikan anak dalam bentuk hukuman.2⃣
*****************


🌷 Metode lain yang bisa kita terapkan pada buah hati kita ketika melakukan kesalahan adalah:

🎈Berpura-pula tidak mengetahui anak telah melakukan kesalahan, akan tetapi tidak mengabaikan kesalahan tersebut.
( Arba'atu Akhtho'u fi Tarbiyyatil Abna Karya Al Imam Muhammad bin Ibrahim al Hamid)

✋Kita bisa menegur anak melalui nasehat kepada anak secara umum saat belajar misalnya, dengan memberikan contoh perbuatan yang telah anak lakukan.

👐Mudah-mudahan dengan nasihat yg kita uraikan dgn lemah lembut, mengingatkan ganjaran atas perbuatan yg dilakukan seorang hamba, serta istighfar jika terjatuh pada kesalahan dan perbuatan dosa. Juga keberanian meminta maaf dan keridhaan apabila kesalahan tersebut menyangkut haq makhluk lain. Akan menggerakkan hati anak untuk mengamalkannya biidznillah.

👋Secara naluriyah anak akan marah dan memberontak apabila aibnya di bongkar di hadapan manusia, apalagi disertai kemarahan kita juga ancaman serta hukuman.
Bukannya akan mengakui kesalahan dan bertaubat, ego  anak akan  menahannya (gengsi) mengakui kesalahan.

☝Yang tersisa, adalah tersakitinya perasaan buah hati kita,yg melahirkan kebencian dan pemberontakan.Anak akan  menjaga jarak serta berusaha mencari berbagai alasan hingga berdusta agar terhindar dari kemarahan serta hukuman  dari orang tua.
Yang berakhir dengan tanpa orang tua sadari dialah penyebab buah hatinya menjauh dari syariat ini dan berbuat kesalahan lain yg lebih parah sekedar pelampiasan.
Wal'iyadzubillah...

Semoga Allah melimpahkan kesabaran yg luas pada kita unk mendidik buah hati kita....Allahumma aamiin....

Bersambung insya Allah....

📬 Faidah dari Tausiyyah Ustadzah Ummu Ubaidillah ( mudhirah Tahfizh Putri mahad darus salaf pendem sragen) kepada pengurus dan Pengajar. Awal ajaran baru
Pada tanggal 10 syawal 1436 H/ 27 juli 2015.
Dengan beberapa tambahan.

RASULULLAH shallallahu ‘alaihi wassalam MENYAYANGI ANAK-ANAK

🍃🌻🌻🍃🌻🌻🍃

RASULULLAH shallallahu ‘alaihi wassalam MENYAYANGI ANAK-ANAK
~~~~~~~~~~~~~~~

✏-Ustadzah Ummu Umar Asma


🍊Pembaca, semoga Allah memberkahi kita semua.

✋Pada edisi kali ini kami bawakan kisah-kisah teladan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam dalam berlemah lembut kepada anak-anak.

👉Harapan kami, semoga kita semua bisa mencontoh beliau.

📚📜Berikut sebagian dari kisah-kisah tersebut.

🎀1⃣.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam mencium putra beliau, Ibrahim.

🍓  dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘,

دَخَلْنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى أَبِي سَيْفٍ الْقَيْنِ وَكَانَ ظِئْرًا لِإِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ، فَأَخَذَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِبْرَاهِيمَ فَقَبَّلَهُ وَشَمَّهُ“

Kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam masuk menemui Abu Saifal-Qain—istrinya adalah ibu susu Ibrahim (putra Rasulullah).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam pun mengambil Ibrahim dan menciumnya.”(HR.al-Bukhari no. 1220)

🎀2⃣.Beliau shallallahu ‘alaihi wassalam bersedih saat kehilangan Ibrahim, Anas mengisahkan dalam lanjutan hadits di atas

,ثُمَّ دَخَلْنَا عَلَيْهِ بَعْدَ ذَلِكَ وَإِبْرَاهِيمُيَجُودُ بِنَفْسِهِ، فَجَعَلَتْ عَيْنَا رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَذْرِفَانِ، فَقَالَ لَهُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: وَأَنْتَ يَا رَسُولَ اللهِ؟ فَقَالَ: يَا ابْنَ عَوْفٍ، إِنَّهَا رَحْمَةٌ. ثُمَّ أَتْبَعَهَا بِأُخْرَى، فَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ الْعَيْنَ تَدْمَعُ، وَالْقَلْبَ يَحْزَنُ، وَلَا نَقُولُ إِلَّا مَا يَرْضَى رَبُّنَا، وَإِنَّا بِفِرَاقِكَ يَا إِبْرَاهِيمُ لَمَحْزُونُونَ“

Kemudian kami mendatanginya lain waktu saat Ibrahim telah meninggal. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam pun meneteskan air mata.Melihat hal itu, ‘Abdurrahman bin‘Auf Rahimahullah bertanya,‘Anda menangis,wahai. Rasulullah?’Beliau menjawab,‘Wahai Ibnu‘Auf,ini tangisan kasihsayang.’ Beliau menangis lagi dan berkata,‘Mata ini menangis dan hati ini bersedih, tetapi kami tidak mengucapkan kecuali kata-kata yang diridhai Rabb kami. Sungguh, karena perpisahan denganmu ini,wahai Ibrahim, kami sangat sedih’.”

🎀3⃣ Beliau membiarkan ‘Aisyah,yang saat itu masih kecil, bermain bersama teman-temannya.

🍓‘Aisyah radhiyallahu ‘anha sendiri yang mengisahkan hal Dia mengatakan

,كُنْتُ أَلْعَب
ُ بِالْبَنَاتِ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَكَانَ لِي صَوَاحِبُ يَلْعَبْنَ مَعِي، فَكَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ يَتَقَمَّعْنَ مِنْهُ فَيُسَرِّبُهُنَّ إِلَيَّ فَيَلْعَبْنَ مَعِي

“Aku pernah bermain boneka di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam.Aku punya teman-teman yang biasa bermain bersamaku. Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam masuk rumah, mereka bersembunyi.Beliau lalu mengeluarkan mereka satu per satu sehingga mereka bermain bersamaku.”(HR.al-Bukhari no. 5665)

👋Berdasarkan hadits ini, para ulama menyebutkan bolehnya permainan boneka bagi anak perempuan. Hal ini dikecualikan dari larangan penyerupaan bentuk makhluk hidup secara umum. Sebab, dalam permainan boneka ini terdapat pendidikan bagi anak perempuan tentang urusan rumah tangga dan anak-anaknya kelak.

👋Demikian disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari(10/527).

🎀4⃣.Beliau memberikan hadiah berupa pakaian kepada anak-anak.

🍓Ummu Khalid Radhiyallahu ‘anha
mengisahkan

,قَدِمْتُ مِنْ أَرْضِ الْحَبَشَةِ وَأَنَا جُوَيْرِيَةٌ، فَكَسَانِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَمِيصَةً لَهَا أَعْلَامٌ، فَجَعَلَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَمْسَحُ الْأَعْلَامَ بِيَدِهِ وَيَقُولُ: سَنَاهْ سَنَاه

ْ“Aku datang dari negeri Habasyah saat masih kecil. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam memberiku pakaian bergaris.Beliau menyentuh garis-garis tersebut dengan tangan beliau seraya mengatakan,‘Bagus, bagus’.”(HR.al-Bukharino. 3585)

🎀5⃣.Beliau menunjukkan kecintaan terhadap anak kecil.

🍓 Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu mengatakan

,خَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَفِي طَائِفَةِ النَّهَارِ، لَا يُكَلِّمُنِي وَلَا أُكَلِّمُهُ، حَتَّى أَتَى سُوقَ بَنِي قَيْنُقَاعَ فَجَلَسَ بِفِنَاءِ بَيْتِ فَاطِمَةَ فَقَالَ: أَثَمَّ لُكَعُ؟ أَثَمَّ لُكَعُ؟ فَحَبَسَتْهُ شَيْئًا، فَظَنَنْتُ أَنَّهَا تُلْبِسُهُ سِخَابًا أَوْ تُغَسِّلُهُ، فَجَاءَ يَشْتَدُّ حَتَّى عَانَقَهُ وَقَبَّلَهُ وَقَالَ: اللَّهُمَّ أَحْبِبْهُ وَأَحِبَّ مَنْ يُحِبُّهُ“

Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam pernah keluar pada sebagian waktu siang.Beliau tidak mengajakku berbicara,demikian pula aku,tidak mengajak beliau berbicara.
Tibalah kami di pasar Bani Qainuqa’.
Beliau duduk di halaman rumah Fathimah kemudian bertanya,‘Apakah ada siKecil? Apakah ada si Kecil(Hasan, -ed.)?
’Fathimah pun menahan anak tersebut sebentar. Kami menyangka bahwa sang ibu memakaikan padanya sikhab(kalung dari cengkih,misk, gaharu, dan wewangian lainnya, -ed.)atau memandikannya.Kemudian, anak tersebut bergegas keluar. Beliau pun memeluk dan menciumnya, lalu berkata,‘Ya Allah,cintailah dia dan cintailah orang yang mencintainya’.”(Muttafaqun ‘alaihi)

🎀6⃣.Dalam shalat pun beliau menunjukkan kasih sayang kepada anak-anak.

🍓Salah seorang sahabat, Abu Qatadah al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, menyampaikan

,أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي وَهُوَ حَامِلٌ أُمَامَةَ بِنْتَ زَيْنَبَ بِنْتِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلِأَبِي الْعَاصِ بْنِ رَبِيعَةَ بْنِ عَبْدِ شَمْسٍ، فَإِذَا سَجَدَ وَضَعَهَا وَإِذَا قَامَ حَمَلَهَا

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam pernah shalat sambil menggendong Umamah,putri Zainab binti
Rasulullah shallallahu‘alaihi wassalam
dari Abul ‘Ash binar-Rabi’ bin‘Abdusyams. Apabila sujud, beliau meletakkannya. Ketika kembali berdiri, beliaupun kembali menggendongnya.”(Muttafaqun ‘alaih)

🎀7⃣.Beliau memanjangkan sujud untuk menyenangkan anak-anak.

🍓 ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu menceritakan

,كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي، فَإِذَا سَجَدَ وَثَبَ الْحَسَنُ وَالْحُسَيْنُ عَلَى ظَهْرِهِ، فَإِذَا أَرَادُوا أَنْ يَمْنَعُوهُمَا أَشَارَ إِلَيْهِمْ أَنْ دَعُوهُمَا، فَلَمَّا قَضَى الصَّلَاةَ وَضَعَهُمَا فِي حِجْرِهِ وَقَالَ: مَنْ أَحَبَّنِي فَلْيُحِبَّ هَذَيْنِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam pernah shalat (dengan membawa al-Hasan danal-Husain,–pen.).
Apabila beliau sujud,kedua anak tersebut menaiki punggung beliau.
Ketika para sahabat ingin mencegah keduanya, beliau memberi isyarat agar mereka membiarkan keduanya. Seusai shalat, beliau memangku keduanya dan berkata,‘Barangsiapa mencintaiku, hendaknya dia mencintai ke dua anak ini’.”
(HR. Abu Ya’la, dinyatakan hasan oleh asy-Syaikhal-Albani dalam Silsilahash-Shahihahno. 312)

🎀8⃣.Beliau meringankan shalat saat mendengar tangis anak.

🍓Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu pernah berkata

,مَا صَلَّيْتُ وَرَاءَ إِمَامٍ قَطُّ أَخَفَّ صَلَاةً وَلَا أَتَمَّ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَإِنْ كَانَ لَيَسْمَعُ بُكَاءَ الصَّبِيِّ فَيُخَفِّفُ مَخَافَةَ أَنْ تُفْتَنَ أُمُّهُ

“Aku tidak pernah shalat di belakang imam yang lebih ringan dan sekaligus lebih sempurna shalatnya dari pada Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam.
Pernah beliau mendengar tangisan anak kecil,maka beliau ringankan shalat karena khawatir tangisan itu akan mengganggu konsentrasi ibu si anak.”
(HR.al-Bukharino. 667)

🌷9⃣.Beliau berempati terhadap anak kecil yang sedang bersedih.

🍓Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu mengisahkan

,كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدْخُلُ عَلَيْنَا، وَلِي أَخٌ صَغْيرٌ يُكْنَىأَبَا عُمَيْرٍ، وَكَانَ لَهُ نُغَيْرٌ يَلْعَبُ بِهِفَمَاتَ، فَدَخَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَآهُ حَزِينًا، فَقَالَ: مَا شَأْنُهُ؟ قِيلَ لَهُ: مَاتَ نُغَرُهُ. فَقَالَ: يَا أَبَا عُمَيْرٍ، مَا فَعَلَ النُّغَيْرُ؟

“Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam biasa menemui kami. Aku memiliki seorang adik laki-laki yang berkuniah Abu ‘Umair. Dia memiliki seekor burung kecil yang biasa ia mainkan.
Suatu saat, burung itu mati.Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam masuk ke tempat kami, beliau melihatnya sedang bersedih. Beliau bertanya kepada orang-orang,‘Mengapa dia bersedih?’
Mereka menjawab,‘Burung kecilnya mati.’Mendengar jawaban itu, beliaupun menyapanya,‘Hai Abu‘Umair,ada apa dengan burung kecilmu?’.”
(HR.al-Bukhari—dalam al-Adabul Mufrad—dan selain beliau, dinyatakan shahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahihal-Adabal-Mufradno. 333)


☝Dari hadits ini para ulama mengambil banyak faedah
(pelajaran).

👍Dari faedah-faedah tersebut, yang berkaitan dengan anak-anak adalah:

👉*.Bolehnya memberi nama kuniah bagi anak kecil.

👉*.Bolehnya bercanda dengan anak kecil. Bahkan, hal ini adalah sunnah, bukan sekadar keringanan dalam syariat.

👉*.Disyariatkannya bersikap lembut kepada teman, baik teman yang masih kecil maupun yang sudah dewasa, dan menanyakan keadaan mereka.

👉*.Bolehnya anak kecil bermain dengan burung.

👉*.Bolehnya orang tua membiarkan anak kecil bermain dengan sesuatu yang diperbolehkan.

👉*.Bolehnya membelanjakan uang untuk menyenangkan anak kecil dengan sesuatu yang dibolehkan syariat.

👉*.Bolehnya menahan burung dalam sangkar, asalkan tetap memberinya makan dan minum.

👉*.Hendaknya anak kecil diajak bicara sesuai dengan kemampuan akalnya.

☝Demikianlah,pembaca, beberapa kisah tentang sikap lembut beliau kepada anak-anak.

👐Semoga Allah memberikan petunjuk kepada kita untuk senantiasa menerapkannya dalam kehidupan kita bersama buah kasih tercinta. Amin.

Wallahu  a'lamu bishshowab.

📪 http://qonitah.com.

Senin, 24 Agustus 2015

Do'a penutup majelis

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَأَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْك

“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”.

Kamis, 20 Agustus 2015

Jangan Bentak aku Ummi, Abi..

💡 Info Psikologis:

〰📢〰📢〰📢〰

DAMPAK BURUK SERING MARAH  dan MEMBENTAK ANAK
        〰🔇🔇🔇〰

💧Apakah Antuna suka marah  dan membentak pada anak?

Wahai Ummah, ketahuilah, sebaik-baik teladan adalah Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Dalam segala aspek kehidupan. Termasuk dalam hal mendidik anak.

Sekian banyak kitab-kitab ulama membahas mengenai tarbiyah aulad-pendidikan anak-.

Maka kita wajib mengilmuinya terutama Bagi kita yang telah menyandang gelar "orang tua".

⚠Dan artikel Psikologis berikut sama sekali tidak ditujukan untuk mengesampingkan sebaik-baik ajaran yakni - Islam 'ala fahmi salafyl ummah-

〰Akan tetapi, dengan ini penulis harapkan dapat menjadi ilmu tambahan bagi ummahat -khususnya- agar termotivasi lagi untuk menghindari membentak atau pun marah-marah.

🌙Dan inilah hasungan syariat untuk meninggalkan akhlak tercela tersebut:

➖🌹➖🌹➖🌹➖

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلاً قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَوْصِنِي،

قَالَ: لاَ تَغْضَبْ فَرَدَّدَ مِرَاراً،
قَالَ: لاَ تَغْضَبْ

((رواه البخاري))

[Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam:

“Berilah wasiat kepadaku”. Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Janganlah engkau marah”.
Maka diulanginya permintaan itu beberapa kali. Sabda beliau:

“Janganlah engkau marah”.

(HR. al-Bukhari)
➖🌹➖🌹➖🌹➖

Dan membentak itu identik dengan amarah. Bagi sebagian orang- terutama yang bertipe temperamental-maka jika marah, cenderung lisan dekat sekali dengan membentak.

❌Subhaanallah, Dari segi syariat maka telah jelas marah-marah Dan membentak itu merupakan akhlak tercela.

🔎Adapun Dari segi Psikologis, tahukah Anda bahwa :
"sering memarahi anak dengan membentaknya juga termasuk dalam bentuk kekerasan verbal yang bisa memengaruhi psikis anak"

Seorang psikolog  anak dan remaja Ratih Zulhaqqi, M.Psi mengutarakan bahwa

"Terbiasa dimarahi dan dibentak, apalagi anak pada dasarnya tidak merasa mendapat kekerasan karena hal itu dilakukan orang terdekat seperti orang tua atau saudara, terbentuklah pemikiran bahwa membentak, memukul dan tindak kekerasan lain adalah bentuk kasih sayang,"

🌾Aduhai,
Alangkah berdosanya kita, jika membiasakan marah-marah Dan membentak pada putra/i kita. Disamping jelas  melanggar syariat yang mulia ini, ternyata secara Psikologis dampaknya :

❌Disadari atau tidak,kebiasaan  membentak anak sama dengan menanamkan persepsi pada buah hati kita bahwa itu adalah sebuah bentuk kasih sayang.
Na'udzubillah.

❌Selain hal diatas, kebiasaan MARAH dan membentak anak dapat berakibat sbb:

Akibatnya;
1⃣Anak akan meniru hal tersebut dalam kesehariannya.

2⃣Dia jadi mudah marah, sulit mengendalikan, emosi, dan suka teriak-teriak.

3⃣ Anak bisa jadi selalu cemas, merasa tidak aman, tidak nyaman

4⃣Anak menjadi tidak percaya diri dan tidak bisa memposisikan dirinya dengan tepat,

Itu masih 4 poin,
إنّا لله و إّنا إليه راجعون...

Mungkin ada sekian poin dampak negatif lain dalam ilmu Psikologi.

Wahai Ummah....
Setidaknya yang 4 ini saja sudah membuat hati kita terpanggil untuk menyudahi kebiasaan jelek dalam mendidik selama ini.

🌹Adapun yang sudah diberi taufiq-Nya selalu sabar dalam mendidik anak-anak, bisa menahan emosi, amarah Dan meninggalkan membentak-bentak ..maka bersyukurlah Anda...
Sungguh Nikmat yang luar biasa karena disana ada makhluk Allah yang dilahirkan dengan watak temperamental -MUDAH marah, membentak bahkan memukul-

Na'udzubillah...

Sebelum menyudahi tulisan ini ana ingin mengajak Antuna untuk  merenungi ucapan Ulama Salaf berikut:

💎‘Umar bin Abdul ‘Aziz t berkata:
“Telah beruntung orang yang dijaga dari hawa nafsu, kemarahan, dan ketamakan.”

💎Ja’far bin Muhammad  berkata:
“Kemarahan itu adalah kunci dari segala macam kejelekan.”

💎Dikatakan kepada Ibnul Mubarak:
“Himpunkanlah untuk kami akhlak-akhlak yang baik dalam satu kata!”
Beliau mengatakan: “Meninggalkan marah.”

(Jami’ul ‘Ulum Wal Hikam, hal. 372, 379)

💎Ibnul Qayyim  berkata:
“Kemarahan itu membinasakan. Dia merusak akal sebagaimana khamr dapat menghilangkan kesadaran.”

(An-Nubadz fi Adabi Thalabil ‘Ilmi hal. 155)

🌸 Akhir kata,
Sungguh tak ada kebaikan sama sekali pada amarah yg didasari emosi belaka.

Maka sebagai ibu,
Sudah menjadi kemestian untuk berSABAR.
Menghadapi anak-anak, yang itu adalah amanah dari Allah dengan sebaik-baik akhlak.
Ingatlah: "Ibu adalah sekolah pertama"

🏡Darimu kami belajar Ibu..
Kami ingin menjadi anak shalih Dan shalihah, maka didiklah Kami dengan akhlak mulia...

بارك الله فيكم..
الحمد لله..
Semoga tulisan ini menjadi pengingat untuk penulis secara pribadi.
Kita memohon Hidayah Dan  taufiq-Nya...

أختكن في الله
أم عبد الله ناجية

📚sumber bacaan:

http://asysyariah.com/marah/
http://m.detik.com/health/read/2014/07/23/171510/2646327/1301/sering-membentak-anak-saat-marah-ini-dampak-negatifnya-bagi-psikis-anak

Selasa, 04 Agustus 2015

Berhitung 1-10

Bismillah,
Ini hasil belajar  Abdurrahman bin Rahadian untuk hari ini..

Alhamdulillah..

Semoga menginspirasi ya Ummah,
Baarokallahufiik

Tips:
-Ajak anak menghafal hitungan 1-10 dalam bahasa Indonesia dan Arab
-Ajak anak mewarnai lembar kerja

-Gunakan spidol/bolpoin/crayon warna warni utk mengubungkan angka dengan gambar. Hal ini sekaligus untuk belajar warna baik dlm bhs Indonesia / Arab.

-Gunakan buku2 bekas (misal buku tk bekas kakak atau majalah2 bekas yang ada gambar dan angka), nahh Antuna dapat mengguntingnya lalu menyuruh Ananda untuk menempel pada selembar kertas

Senin, 03 Agustus 2015

WARNING: Yang menjadi Orang Tua WAJIB baca ini!

Pengaruh Ortu Terhadap Anak

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,

“Betapa banyak orang yang mencelakakan anaknya
—belahan hatinya—di dunia dan di akhirat
karena tidak memberi perhatian dan tidak memberikan pendidikan adab kepada mereka.

Orang tua justru membantu si anak menuruti semua
keinginan syahwatnya. Ia menyangka bahwa dengan berbuat
demikian berarti dia telah memuliakan si anak, padahal
sejatinya dia telah menghinakannya.

Bahkan, dia beranggapan, ia telah memberikan kasih sayang kepada
anak dengan berbuat demikian.

Akhirnya, ia pun tidak bisa mengambil manfaat dari keberadaan anaknya. Si anak justru membuat orang tua terluput mendapat bagiannya di dunia dan di akhirat. Apabila engkau meneliti kerusakan yang terjadi pada anak, akan engkau dapati bahwa keumumannya
bersumber dari orang tua.” (Tuhfatul Maudud hlm. 351)

KENAPA ANAK MENJADI RUSAK?

Beliau rahimahullah menyatakan pula,

“Mayoritas anak menjadi rusak dengan sebab yang
bersumber dari orang tua, dan tidak adanya perhatian mereka
terhadap si anak, tidak adanya pendidikan tentang berbagai
kewajiban agama dan sunnah-sunnahnya.

Orang tua telah menyia-nyiakan anak selagi mereka masih kecil, sehingga anak tidak bisa memberi manfaat untuk dirinya sendiri dan
orang tuanya ketika sudah lanjut usia.

Ketika sebagian orang tua mencela anak karena kedurhakaannya, si anak menjawab,
‘Wahai ayah, engkau dahulu telah durhaka kepadaku saat aku kecil, maka aku sekarang mendurhakaimu ketika engkau telah lanjut usia. Engkau dahulu telah menyia- nyiakanku sebagai anak, maka sekarang aku pun menyia- nyiakanmu ketika engkau telah berusia lanjut’.” (Tuhfatul Maudud hlm. 337)

Maksudnya orang tua durhaka kpd anak adalah saat mereka kecil,ortu tidak memberikan hak2 mereka berupa tarbiyah islamiyah yg baik, dengan kata lain, ortu hanya berorientasi duniawi, memenuhi segala kebutuhan anak secara duniawi akan tetapi ortu lalai -menelantarkan- tarbiyah islamiyah 'ala fahmi salafil ummah. Mereka biarkan anak mereka tanpa pendidikan islami yg sesuai Al Qur'an dan Sunnah. Inilah makna durhaka kpd anak, wallahu a'lam bish showab.

Baca:
http://asysyariah.com/permata-salaf-pengaruh-orang-tua-terhadap-anak/

Selasa, 14 Juli 2015

Manajemen Keseharian dan Evaluasi BMR


Manajemen Keseharian dan Evaluasi BMR

 



Sebagian besar Antuna yang ingin memulai BMR  biasanya memiliki pertanyaan-pertanyaan semacam ini : Bagaimana sih BMR nanti harus  dijalani? Bagaimana BMR untuk anak usia dini? Dan bagaimana juga dengan anak-anak yang sudah usia sekolah? 

Naah, dari pertanyaan-pertanyaan semacam tadi, berikut gambaran tentang manajemen dalam keseharian BMR

Proses BMR dengan sekolah formal (misal Raudhatul Athfal, tk, Ma'had, Ibtidaiyyah dll) memiliki beberapa perbedaan. Di antaranya adalah :

Sekolah Formal Homeschooling
Polanya terstruktur Polanya lebih fleksibel
Belajarnya terjadwal Ada pilihan, mau terstruktur atau tidak terstruktur
Jadwalnya pasti, diatur dan direncanakan sejak jauh-jauh hari dari pusat (yakni pihak Ma'had) Jadwalnya longgar, fleksibel, bebas menentukan jadwal
Kontrol eksternal (yakni para Ustadz/ah) Kontrol internal, ada pada orangtua





Manajemen Keluarga. 

 

Hubungan ortu dan anak beda dengan hubungan guru dengan murid. Kalau dengan guru, sifatnya fomal, suka tidak suka anak harus patuh dan menuruti gurunya. Tapi ketika berada di rumah, semua menjadi lebih informal. Komunikasi tidak bisa hanya dengan perintah. Dalam komunikasinya, yang terpenting adalah kenyamanan interaksi keluarga. Orangtua harus merasa nyaman bersama anak, anak juga merasa nyaman bersama orangtuanya. Ini penting, karena tanpa adanya rasa saling nyaman ini proses BMR tidak akan dapat berjalan dengan baik.

Selain itu, penting pula untuk bersepakat tentang pembagian peran antara ibu dan ayah. Dalam homeschooling, beban terbesar ada pada ibu. Jadi suara ibu harus mendapatkan porsi yang lebih besar. Karena bagaimanapun tugas domestik rumah tangga sesungguhnya sudah cukup berat bagi ibu, karena itu harus ada pembagian peran antara ibu dan ayah dalam pelaksanaan BMR. Meski kembali lagi pada masing-masing keluarga.
*Ada yang memang kendali penuh ada pada ibu (khusus untuk proses belajar mengajar), sementara ayah cukup ACC atau memberikan fasilitas.
*Ada pula yang bisa dikendalikan bersama-sama dengan pembagian tugas.
Jangan lupa untuk menyepakati hal-hal yang penting dan dapat ditolerir. Seperti misalnya menyederhanakan keseharian keluarga (seperti merencanakan hemat waktu dalam memasak, mencuci, beres-beres rumah, dll), saling memaklumi dan membantu antar anggota keluarga, dan pastikan untuk mengkomunikasikan segala sesuatunya dengan baik. Sebisa mungkin, hindari konflik yang tidak perlu. Masalah sepele, tidak perlu dibuat besar. Komunikasikan saja dengan pasangan atau anak-anak.

Perlu juga melibatkan anak dalam keseharian kita, sebagai anggota tim. Dengan catatan, berikan anak-anak kepercayaan akan kemampuan mereka, mulai dari hal-hal yang sederhana, apresiasikan meskipun keterlibatan mereka belum sempurna, luangkan waktu dan sediakan stok kesabaran yang lebih dalam menghadapi mereka, lalu jalani dengan rutin. Boleh juga melakukan kegiatan-kegiatan bersama untuk membangun ikatan yang lebih antara orangtua dan anak.

Kemudian, yang tak kalah penting adalah membangun pola dalam keluarga dengan rutinitas. Anak-anak itu membutuhkan rutinitas harian sebagai persiapan diri dalam menghadapi sistem yang terstruktur dalam kehidupan mereka di masa depan, jadi ada baiknya kita membantunya menentukan rutinitas dan membangun konsistensi.

Manajemen Proses Belajar

Kita bisa menyediakan materi kegiatan yang siap pakai dan letakkan di tempat yang terjangkau oleh anak-anak. Misalnya dengan mengatur benda-benda yang sesuai dengan kepemilikan dan usia anak, materi-materi belajar, dsb. Lalu tentukan hal minimal yang dilakukan sehari-hari, misalnya belajar apa hari ini, bisa kita tentukan minimalnya. Contohnya, minimal dalam sehari anak usia tk wajib belajar menghafal surat-surat pendek dan membaca AISM (Anak Islam Suka Membaca. Contoh lain tafadholna dimuraja'ah disini:

 Yang terpenting adalah anak-anak harus merasa dihargai atas apa yang sudah mereka lakukan, dan kemudian menjalaninya dengan konsisten.
Tentukan juga pola belajar yang sesuai dengan masing-masing anak. Setiap anak punya pola yang berbeda-beda, jadi tidak masalah jika kita membuat jadwal dan model belajar sesuai dengan pola mereka masing-masing. Yang penting, fokus pada tujuan.
Dalam memilih alat evaluasi, kita juga bisa menentukannya bersama sesuai dengan kebutuhan keluarga kita masing-masing. Mau dengan soal ujian boleh, atau dengan menyusun portofolio atau dokumentasi proses belajar mereka.

Manajemen Waktu

Untuk mempermudah, buatlah prioritas sesuai dengan masing-masing anak. Misalnya, untuk si Sulung, buat target dalam semester ini dia selesai materi apa. Begitu juga dengan adiknya, tentukan target sesuai dengan kondisi dan kemampuannya.
Boleh juga membuat jadwal tertulis, khususnya untuk anak-anak usia sekolah. Manfaatkan fleksibilitas dalam homeschooling. Walaupun ada jadwal, tapi homeschooling bisa lebih fleksibel.

Menghindari Masa Capek

Tidak bisa dipungkiri bahwa dalam menjalani BMR, pasti akan ada masa-masa lelah, masa jenuh. Dan itu wajar. Karena itulah kita perlu menyederhanakan target, lalu fokus pada tujuan kita. Tidak perlu terlalu stress atau membebani diri sendiri.
Lakukan hal yang disenangi bersama dengan keluarga, untuk menghindari masa capek. Kita bisa jalan-jalan keluar, melakukan hal-hal yang kita senangi bersama-sama dengan suami dan anak.
Latih dan support anak untuk belajar mandiri, tidak harus selalu didampingi tapi tetap dalam jangkauan pengawasan kita. Jadi saat kita sedang lelah, anak-anak tetap bisa melakukan kegiatan mereka sendiri. Agar anak juga belajar untuk mencari apa yang mereka senangi sendiri, sekaligus belajar untuk mengevaluasi diri mereka sendiri.


Evaluasi Homeschooling

Evaluasi adalah alat untuk memperbaiki, bukan menghakimi. Evaluasi ini memiliki tujuan untuk merefleksikan proses BMR yang kita jalani. Apakah kita sudah berada di jalur yang sesuai dengan tujuan yang kita tetapkan? Apakah proses BMR selama ini sudah efektif dan menyenangkan?
Evaluasi juga merupakan alat komunikasi eksternal. Dengan adanya evaluasi kita juga bisa mengetahui apakah proses yang kita jalani ini sudah memenuhi standar dan apakah sudah bisa dibandingkan dengan orang lain. Evaluasi ini adalah umpan balik.

Alat Evaluasi

  • Pengamatan informal terhadap kegiatan
  • Komunikasi lisan melalui obrolan tentang hal tertentu
  • Portofolio karya
  • Latihan soal untuk kepentingan rapor

Semoga bermanfaat.
Baarokallahufikunna,