Tampilkan postingan dengan label Figur Wanita Shalihah Panutan Ibu Shalihah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Figur Wanita Shalihah Panutan Ibu Shalihah. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 November 2015

Figur Ke-14 : Asma’ Bintu Abi Bakr Ash Shidiq رضي الله عنهما 

🎀Figur Shalihah Panutan Wanita Shalihah🎀



🌹Inilah dia wahai ibu...
Figur Wanita Shalihah,
Sebaik-baik cermin...
🔎Untuk kita berkaca padanya...



🌅 Figur Ke-1⃣4⃣


🌸〰 🌸 Asma’ Bintu Abi Bakr Ash Shidiq رضي الله عنهما 🌸〰 🌸

✏(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu ‘Abdirrahman Anisah bintu ‘Imran حفظها الله)

📃 Sebuah kisah kehidupan seorang wanita mulia, putri seorang yang mulia. Sesosok pribadi yang menggambarkan sebuah ketabahan hati dalam menjalani setiap babak dalam kehidupannya, hingga akhir hayatnya.

💐 Dia dikenal dengan namanya, Asma` bintu Abi Bakr ‘Abdillah bin Abi Quhafah ‘Utsman bin ‘Amir bin ‘Amr bin Ka’b bin Sa’d bin Taim Al-Qurasyiyah At-Taimiyyahرضي الله عنهما. Berkunyah dengan nama Ummu ‘Abdillah. Ibunya bernama Qutailah bintu Abdil ‘Uzza bin As’ad bin Jabir bin Malik bin Hasl bin ‘Amir bin Lu`ay. Dia saudari sekandung Abdullah bin Abi Bakr Ash-Shiddiq. Lahir beberapa belas tahun sebelum lahir adiknya satu bapak, ‘Aisyah bintu Abi Bakr رضي الله عنهما.

⛅ Asma`bintu Abi Bakr Ash-Shiddiq رضي الله عنهما turut menyongsong cahaya Islam di awal kedatangannya. Dia berislam setelah berislamnya tujuh belas orang shahabat. Kisah-kisah hidupnya bertabur keharuman yang melukiskan ketabahan dirinya.

🎀🎀 Kisah yang tak terlupa, ketika Rasulullahصلى الله عليه وسلم hendak bertolak untuk hijrah ke Madinah bersama Abu Bakr Ash-Shiddiq رضي الله عنه. Dipersiapkannya air dan bekal perjalanan hijrah mereka. Namun saat itu dia tak menemukan sesuatu pun yang bisa digunakan untuk mengikat perbekalan itu. Atas saran sang ayah, dilepasnya ikat pinggang yang melilit pinggangnya, lalu dibagi menjadi dua. Satu untuk mengikat makanan, satu lagi untuk mengikat tempat air. Peristiwa ini membekaskan sesuatu yang berharga, dia digelari oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم dengan Dzatun Nithaqain, sang pemilik dua ikat pinggang.

🎒 Sang ayah berangkat hijrah mendampingi Rasulullah صلى الله عليه وسلم dengan membawa seluruh hartanya. Selang beberapa waktu, datang kakeknya, Abu Quhafah, menemuinya. Abu Quhafah adalah seorang tua yang telah hilang penglihatannya. Dia mengatakan tentang Abu Bakr, “Dia itu menyulitkan kalian dengan diri dan hartanya.” Mendengar ucapan itu, Asma` menjawab, “Tidak, wahai Kakek. Banyak yang dia tinggalkan bagi kami.” Asma` pun mengambil bebatuan. Diletakkannya dalam lobang di dinding rumahnya, kemudian ditutupnya dengan kain. Lalu diambilnya tangan sang kakek sembari berkata, “Dia meninggalkan ini untuk kami.” Tatkala meraba bebatuan itu, Abu Quhafah mengira itu adalah harta. Maka dia pun berkata, “Kalau ini yang dia tinggalkan untuk kalian, maka baiklah!”

💥 Selepas Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan Abu Bakr Ash-Shiddiq رضي الله عنه berangkat, Abu Jahl bersama serombongan musyrikin datang. Asma`رضي الله عنهما menghadapi mereka. Abu Jahl menghardik, “Di mana ayahmu!” “Demi Allah, aku tidak tahu di mana sekarang dia berada.” Jawaban itu membuat Abu Jahl berang. Tangannya pun melayang, menampar Asma` رضي الله عنهما hingga terlepas antingnya, lalu beranjak pergi.

🏡 Asma` bintu Abi Bakr Ash-Shiddiq رضي الله عنهما disunting oleh seorang shahabat yang mulia, Az-Zubair bin Al-’Awwam bin Khuwailid bin Asad bin Abdil ‘Uzza bin Qushay رضي الله عنه. Kepada pasangan ini Allah سبحانه وتعالى menganugerahkan buah pernikahan mereka, Abdullah bin Az-Zubair رضي الله عنهما, bayi pertama yang lahir dalam Islam dari kalangan Muhajirin. Ketika mengandung, Asma` menempuh perjalanan hijrah ke Madinah. Dalam perjalanan itu, tatkala telah tiba di Quba`, Asma` melahirkan. Dia serahkan bayinya kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلمuntuk ditahnik serta mendapatkan doa kebaikan. Lalu Rasulullah صلى الله عليه وسلم memberikan pada putra pertama Az-Zubair رضي الله عنه ini nama Abdullah. Kemudian setelah itu Allah سبحانه وتعالى anugerahkan pula kepada mereka putra-putri yang lain, ‘Urwah, Al-Mundzir, ‘Ashim, Al-Muhajir, Khadijah Al-Kubra, Ummul Hasan dan ‘Aisyah.

🍞 Az-Zubair رضي الله عنه bukanlah seorang yang berada. Dia tak memiliki harta ataupun budak, kecuali hanyalah seekor kuda. Asma` رضي الله عنهما mengisahkan kiprahnya dalam rumah tangga. Dia mengurus, memberi makan dan minum kuda suaminya, menumbuk biji-bijian, mengambil air dan membuat adonan untuk makanan.

👣 Suatu ketika, Asma` رضي الله عنهما  tengah membawa biji-bijian di atas kepalanya, berjalan kaki dari kebun Az-Zubair رضي الله عنه. Tiba-tiba Rasulullah صلى الله عليه وسلم berlalu bersama para shahabat. Melihat Asma` berjalan membawa beban, Rasulullah صلى الله عليه وسلم memberi isyarat agar Asma` turut naik di atas tunggangan beliau. Terbayang di benak Asma` saat itu kecemburuan suaminya. Rasulullah صلى الله عليه وسلم pun mengetahui bahwa Asma` merasa malu, hingga beliau pun melanjutkan perjalanan.

⚠ Ketika bertemu dengan Az-Zubair رضي الله عنه, Asma` رضي الله عنهما menceritakan apa yang dialaminya. “Sungguh,” kata Az-Zubair رضي الله عنه, “Engkau membawa biji-bijian di atas kepalamu lebih berat bagiku daripada engkau membonceng Rasulullah صلى الله عليه وسلم.”

🌂 Sungguh, gambaran ketabahan yang luar biasa. Menjalani hari-hari dalam rumah tangganya. Wanita yang mulia, putri seorang yang mulia ini pernah mengeluhkan kepada ayahnya tentang kekerasan sikap Az-Zubair رضي الله عنهpadanya. Abu Bakr  رضي الله عنه pun menasehati putrinya, “Sabarlah, wahai putriku. Sesungguhnya bila seorang wanita memiliki suami yang shalih, kemudian suaminya meninggal dan dia tidak menikah lagi sepeninggalnya, maka mereka berdua akan bersama lagi di dalam jannah.”

☔ Asma` bintu Abi Bakr رضي الله عنهما menyaksikan pula putranya dihukum mati oleh panglima yang zalim, Al-Hajjaj, pada masa pemerintahan Khalifah Abdul Malik bin Marwan. Setelah Al-Hajjaj melaksanakan hukuman itu, dia menemui Asma` lalu berkata, “Wahai ibu, sesungguhnya Amirul Mukminin berpesan padaku untuk menanyakan padamu, apakah engkau memiliki suatu keperluan?” Asma` pun menjawab, “Aku bukan ibumu, tapi aku ibu orang yang digantung itu, dan aku tidak mempunyai keperluan apa pun! Akan tetapi aku akan menyampaikan padamu bahwa aku pernah mendengar Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, ‘Akan keluar dari Tsaqif seorang pendusta dan seorang pembinasa.’ Adapun si pendusta, kita telah mengetahuinya. Adapun si pembinasa, engkaulah orangnya!” Al-Hajjaj menukas, “Pembinasa orang-orang munafik.”

❌Tatkala mendengar Al-Hajjaj menganggap Abdullah bin Az-Zubair رضي الله عنهما adalah munafik, Asma` menjawab, “Demi Allah, dia bukan munafik. Dia seorang yang banyak puasa dan shalat malam, serta berbakti kepada ibunya!”

💦Dengan tangannya Asma` melepaskan tali yang mengikat putranya, Abdullah, atas izin Khalifah ‘Abdul Malik bin Marwan, setelah sebelumnya Al-Hajjaj menolak untuk mengizinkannya. Ibu yang telah renta dan hilang penglihatannya karena tua itu pun memandikan jasad putranya, lalu mengkafaninya. Lalu dibawanya jenazah Abdullah bin Az-Zubair رضي الله عنهما ke Madinah dan dikuburkannya di sana.

🍃🍂 Beberapa malam setelah itu, tak selang berapa lama, Asma` bintu Abi Bakr Ash Shiddiq رضي الله عنهما kembali ke hadapan Rabbnya سبحانه وتعالى  dalam usia mencapai seratus tahun. Tak satu pun di antara giginya tanggal dan tak melemah pikirannya karena usia.

💎 Dia seorang wanita dengan sederet kemuliaannya. Dia mewariskan banyak ilmu kepada anak-anak dan generasi setelahnya. Dia turut dalam kancah peperangan Yarmuk bersama suaminya.

🍯Dia begitu masyhur dengan kedermawanannya, hingga Abdullah bin Az Zubair رضي الله عنهما pun bertutur, “Tak ada wanita yang lebih dermawan daripada ‘Aisyah dan Asma`. Namun kedermawanan mereka berbeda. ‘Aisyah gemar mengumpulkan sedikit demi sedikit, dan setelah terkumpul dia sedekahkan, sedangkan Asma`, dia tak pernah menyimpan sesuatu untuk esok hari.”

🌹 Kisah sepanjang kehidupannya yang bertabur ketabahan dan kesabaran. Asma` bintu Abi Bakr Ash-Shiddiq, semoga Allah meridhainya…

 

Wallahu a’lam.

 

📚 Sumber bacaan :
➲Shahih Muslim
➲Al-Ishabah, Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-’Asqalani (7/486-487)
➲Al-Isti’ab, Ibnu ‘Abdil Barr (4/1781-1783)
Ath-Thabaqatul Kubra, Ibnu Sa’d (1/229, 8/249-251)
➲Siyar A’lamin Nubala` , Adz-Dzahabi (2/287-296, 3/379)
➲Tahdzibul Kamal,  Al-Mizzi (35/123-124)

💻 Sumber :
http://asysyariah.com/asma-bintu-abi-bakr-ash-shidiq/

🎀مجموعة روضة الأطفال🎀




Bagi yang ingin mengambil faedah dari postingan RA yang telah lalu, antunna dapat mengunjungi blog kami :





🔗 http://tamananakshalih.blogspot.com/

Figur Ke-13 : Shafiyyah bintu Abdil Muthalib  رضي الله عنها

🎀Figur Shalihah Panutan Wanita Shalihah🎀





🌹Inilah dia wahai ibu...
Figur Wanita Shalihah,
Sebaik-baik cermin...
🔎Untuk kita berkaca padanya...




🌅 Figur Ke-1⃣3⃣


🌸〰🌸 Shafiyyah bintu Abdil Muthalib  رضي الله عنها 🌸〰🌸
 

✏ (ditulis oleh : Al-Ustadzah Ummu Abdirrahman Anisah bintu ‘Imran حفظها الله)

Seorang wanita di kalangan bangsawan Quraisy. Dia sambut ajakan anak saudaranya tatkala menyeru manusia untuk meninggalkan penyembahan berhala. Dengan keimanannya dia berhijrah, serta menjalani kemuliaan.

Dia bernama Shafiyyah bintu ‘Abdil Muththalib bin Hasyim bin ‘Abdi Manaf bin Qushay Al-Qurasyiyah Al-Hasyimiyah  رضي الله عنها. Ibunya bernama Halah bintu Wahb bin ‘Abdi Manaf bin Zuhrah bin Kilab. Dia saudari kandung Hamzah bin ‘Abdil Muththalib رضي الله عنه.

Semasa jahiliyah, Shafiyyah رضي الله عنها menikah dengan Al-Harits bin Harb bin Umayyah bin ‘Abdi Syams bin ‘Abdi Manaf bin Qushay. Namun Al-Harits meninggal. Sepeninggal Al-Harits, Shafiyyah menikah dengan Al-’Awwam bin Khuwailid bin Asad bin ‘Abdil ‘Uzza bin Qushay. Dari pernikahan ini, lahir Az-Zubair bin Al-’Awwam رضي الله عنه , As-Sa`ib, dan Abdul Ka’bah.

Ketika cahaya Islam mulai menyebar, Shafiyyah pun menyatakan ketundukannya. Dia pun berbai’at kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم serta turut berhijrah ke negeri Madinah. Kisah-kisah kehidupannya mengesankan bahwa dia adalah seorang wanita yang tabah.

Pertengahan Syawwal, tahun ketiga setelah hijrah, pada Sabtu pagi, peperangan Uhud mulai berkobar. Rasulullah صلى الله عليه وسلم berperang bersama 700 orang pasukan kaum muslimin, 50 di antaranya pasukan berkuda, menghadapi 3.000 orang pasukan musyrikin. Dengan ilmu dan hikmah-Nya, Allah سبحانه وتعالى  menentukan hari itu sebagai saat datangnya ujian bagi kaum muslimin. Pada hari itu, Allah tampakkan orang-orang munafiq dan Allah muliakan orang-orang yang mendambakan kemuliaan sebagai syuhada.

Di antara shahabat yang gugur di medan Uhud adalah Hamzah bin ‘Abdil Muththalib رضي الله عنه. Kematian Hamzah menggoreskan kesedihan dalam hati Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Air mata beliau berlinang saat mendengar berita kematiannya.

Usai peperangan, seorang wanita berjalan mendekati jasad-jasad kaum muslimin yang gugur di kancah pertempuran. Tatkala melihatnya, Rasulullah صلى الله عليه وسلم tidak ingin wanita itu melihat kaum muslimin yang terbunuh. “Cegah wanita itu!” kata beliau. Az-Zubair bin Al-Awwam رضي الله عنهmengenali wanita itu adalah ibunya. Segera dia mendekati sebelum sang ibu sampai di tempat para syuhada. Namun sang ibu mengusirnya, “Tinggalkan aku! Tidak ada tempat bagimu!”

Wanita itu, Shafiyyah bintu ‘Abdil Muththalib رضي الله عنها pun berhenti dan berdiri di dekat jasad saudaranya, Hamzah bin ‘Abdil Muththalib رضي الله عنه. Dikeluarkannya dua helai kain yang dibawanya, sembari berkata, “Ini dua helai kain yang kubawa untuk saudaraku Hamzah. Aku telah mendengar berita kematiannya. Kafanilah dia dengannya.”

Di sebelah jasad Hamzah رضي الله عنه terbujur pula jasad seorang Anshar. Dia tidak memiliki kafan. Rasulullah صلى الله عليه وسلم pun memerintahkan untuk membagi dua kafan Hamzah, sehelai untuk Hamzah, sehelai untuk orang Anshar itu.

Shafiyyah bintu ‘Abdil Muththalib رضي الله عنهاdikaruniai usia yang panjang. Dia wafat pada masa pemerintahan ‘Umar bin Al-Khaththab رضي الله عنهdalam usia tujuh puluh tiga tahun dan dimakamkan di pekuburan Baqi’. Kehidupan dirinya adalah gambaran ketabahan jiwanya.

Shafiyyah bintu ‘Abdil Muththalib رضي الله عنها, semoga Allah meridhainya….
 

Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.

 

📚 Sumber bacaan :

❀ Al-Ishabah, karya Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-’Asqalani (7/743-744)
❀ Al-Isti’ab, karya Al-Imam Ibnu Abdil Barr (4/1873)
❀ Ath-Thabaqatul Kubra, karya Al-Imam Ibnu Sa’ad (3/15, 8/41)
❀ Ats-Tsiqat, karya Al-Imam Ibnu Hibban (3/197)
❀ Mukhtashar Siratir Rasul, karya Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil Wahhab (hal. 161-168, 172)
❀ Shahihus Sirah An-Nabawiyah, Ibrahim Al-’Ali (hal. 210-211)
❀ Siyar A’lamin Nubala`, karya Al-Imam Adz-Dzahabi (2/521-522)

 
💻 Sumber :
http://asysyariah.com/shafiyah-bintu-abdil-muthalib/

🎀مجموعة روضة الأطفال🎀



Bagi yang ingin mengambil faedah dari postingan RA yang telah lalu, antunna dapat mengunjungi blog kami :




🔗 http://tamananakshalih.blogspot.com/

Figur Ke-12 : Ummu ‘Aiman رضي الله عنها

🎀Figur Shalihah Panutan Wanita Shalihah🎀



🌹Inilah dia wahai ibu...
Figur Wanita Shalihah,
Sebaik-baik cermin...
🔎Untuk kita berkaca padanya...


🌅 Figur Ke-1⃣2⃣

🌸〰🌸 Ummu ‘Aiman رضي الله عنها 🌸〰🌸

✏ (ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu ‘Abdirrahman Anisah bintu ‘Imran)

🌷 Perjalanannya dalam mengiringi kehidupan Rasulullah صلى الله عليه وسلم tak dapat diabaikan. Kemuliaan yang disandangnya di sisi Rasulullah صلى الله عليه وسلم tak layak dilupakan. Hingga manusia paling mulia itu pun berkata tentangnya, dialah ibu setelah ibuku….

🌸 Wanita yang mulia ini bernama Barkah bintu Tsa’labah bin ‘Amr bin Hishn bin Malik bin Salamah bin ‘Amr bin An-Nu’man Al-Habasyiyah رضي الله عنها. Namun dia lebih dikenal dengan kunyahnya, Ummu ‘Aiman.

🌺 Semula Ummu ‘Aiman رضي الله عنها adalah seorang budak milik ‘Abdullah bin ‘Abdil Muththalib, ayah Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Di kemudian hari, setelah ‘Abdullah bin ‘Abdil Muththalib meninggal, Ummu ‘Aiman رضي الله عنها  diwarisi oleh Rasulullahصلى الله عليه وسلم. Dialah yang mengasuh Rasulullahصلى الله عليه وسلم semenjak kecil.

🌷 Tatkala Rasulullah صلى الله عليه وسلم berusia enam tahun, beliau dibawa oleh ibunya, Aminah bintu Wahb, mengunjungi keluarga sang ibu dari Bani ‘Adi bin An-Najjar di Madinah. Ummu ‘Aiman رضي الله عنها menyertai perjalanan mereka. Sebulan lamanya mereka berada di sana.

🌸 Ada peristiwa yang tercatat dalam kenangan Ummu ‘Aiman رضي الله عنها saat mereka berada di Madinah. Orang-orang Yahudi di sana melihat Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Mereka pun berujar, “Dia adalah nabi umat ini dan ini adalah negeri hijrahnya". Ucapan mereka itu diingat benar oleh Ummu 'Aiman.  Setelah itu, Aminah membawa putranya kembali ke Makkah.

🌺 Namun ternyata itulah saat terakhir kebersamaan Rasulullah صلى الله عليه وسلم dengan sang ibunda. Dalam perjalanan pulang dari Madinah ke Makkah, Aminah meninggal di Abwa’, antara Makkah dan Madinah, dan dikuburkan di sana. Pulanglah Ummu'Aiman رضي الله عنها membawa Rasulullah صلى الله عليه وسلم dengan dua unta tunggangan mereka.

🌷 Setelah ibunda Rasulullah صلى الله عليه وسلم tiada, Ummu 'Aiman berperan sebagai ibu bagi Rasulullahصلى الله عليه وسلم. Tak heran, banyak kisah yang dapat dituturkan oleh Ummu 'Aiman رضي الله عنهاtentang Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Ummu ‘Aiman terus menyertai kehidupan Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Ketika Rasulullah صلى الله عليه وسلم menikah dengan Khadijah bintu Khuwailid رضي الله عنها, Ummu ‘Aiman رضي الله عنها mendapatkan kemerdekaan dirinya. Rasulullah صلى الله عليه وسلمmembebaskannya.

🌸 Ummu ‘Aiman رضي الله عنها, seorang wanita yang teramat mulia. Dari rahimnya terlahir orang-orang mulia. Ummu ‘Aiman رضي الله عنها menikah dengan ‘Ubaid bin Zaid رضي الله عنه  dari Bani Al-Harits bin Al-Khazraj. Dari pernikahan ini, lahirlah 'Aiman bin ‘Ubaid رضي الله عنه yang kelak di kemudian hari turut terjun dalam peperangan bersama Rasulullah صلى الله عليه وسلم hingga menggapai syahid di medan pertempuran Hunain.

🌺 Ummu ‘Aiman رضي الله عنها menjalani kehidupannya sepeninggal suaminya. Saat itu, Rasulullah صلى الله عليه وسلم menjanjikan, “Siapa yang senang menikah dengan seorang wanita ahli surga, hendaklah dia menikah dengan Ummu ‘Aiman.” Datanglah Zaid bin Haritsah رضي الله عنه, bekas budak sekaligus seorang yang sangat dicintai oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم, untuk meminangnya. Dinikahkanlah Ummu ‘Aiman رضي الله عنها oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم dengannya. Lahirlah Usamah bin Zaid رضي الله عنهما yang kelak di kemudian hari menyandang kemuliaan memimpin pasukan terakhir yang diutus oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم menghadapi Romawi, sementara dalam barisan pasukan itu ada orang-orang mulia seperti Abu Bakr dan ‘Umar bin Al-Khaththab رضي الله عنهما.

🌷 Ummu ‘Aiman mendampingi Zaid bin Haritsah رضي الله عنه hingga Zaid meninggal sebagai syahid saat memimpin pasukan dalam kancah pertempuran yang seru di medan Mu’tah, Syam, pada tahun kedelapan setelah hijrah.

🌸 Ummu ‘Aiman رضي الله عنها, seorang wanita yang mendapatkan kemuliaan dua hijrah, ke bumi Habasyah dan ke bumi Madinah. Suatu ketika dalam salah satu perjalanan hijrahnya, Ummu ‘Aiman menempuhnya dengan berpuasa. Tiba saat berbuka, tak ada bekal air yang dapat digunakan untuk melepaskan dahaganya yang sangat. Tiba-tiba didapatinya setimba air terulur dari langit dengan tali timba yang berwarna putih. Ummu ‘Aiman pun meminumnya. Ummu ‘Aiman menuturkan, “Semenjak itu, aku berpuasa di siang yang panas dan berjalan di bawah terik matahari agar aku merasa haus, namun aku tidak pernah merasakan dahaga.”

🌺 Hijrahnya ke Madinah ditempuhnya selang beberapa waktu setelah Rasulullah صلى الله عليه وسلم hijrah ke Madinah. Ketika itu Rasulullah صلى الله عليه وسلمmengutus Zaid bin Haritsah dan Abu Rafi’ رضي الله عنهما dengan berbekal dua ekor unta dan 500 dirham untuk membawa dua putri beliau, Fathimah dan Ummu Kultsum رضي الله عنهما, serta Saudah bintu Zam’ah رضي الله عنها. Pada saat itu pulalah Ummu ‘Aiman bersama putranya Usamah bin Zaid bertolak menuju Madinah bersama rombongan ini.

🌷 Ummu ‘Aiman terus mengiringi kehidupan Rasulullahصلى الله عليه وسلم hingga wafatnya. Ketika Rasulullahصلى الله عليه وسلم telah wafat, Abu Bakr رضي الله عنهberkata kepada ‘Umar bin Al-Khaththab رضي الله عنه, “Mari kita mengunjungi Ummu ‘Aiman sebagaimana dulu Rasulullah صلى الله عليه وسلم biasa mengunjunginya.” Keduanya pun beranjak menemui Ummu ‘Aiman. Ternyata mereka jumpai Ummu ‘Aiman dalam keadaan menangis, hingga mereka pun bertanya, “Apa yang membuatmu menangis? Bukankah apa yang di sisi Allah lebih baik bagi Rasulullah.” Ummu ‘Aiman menjawab, “Aku menangis karena wahyu dari langit telah terputus.” Mendengar penuturan Ummu ‘Aiman, berlinanglah air mata Abu Bakr dan Umar رضي الله عنهما hingga keduanya pun menangis bersama Ummu ‘Aiman.

🌸 Ummu ‘Aiman رضي الله عنها sempat menemui saat terbunuhnya ‘Umar bin Al-Khaththab. Ketika itu dia mengatakan, “Pada hari ini Islam menjadi lemah.”

🌺 Lima puluh bulan setelah wafatnya Rasulullah صلى الله عليه وسلم, Ummu ‘Aiman رضي الله عنها kembali kepada Rabbnya سبحانه وتعالى. Dia telah menorehkan sebuah kemuliaan yang akan senantiasa dikenang. Dia meninggalkan untaian kebaikan yang akan memberikan teladan.

🌷🌷 Ummu ‘Aiman, semoga Allah meridhainya….

Wallahu ta’ala a’lamu bish shawab.

 

📚 Sumber bacaan :

❀ Al-Ishabah, karya Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-’Asqalani (8/169-172)
❀ Al-Isti’ab, karya Al-Imam Ibnu ‘Abdil Barr (1/128, 2/1793-1795)
❀ Ath-Thabaqatul Kubra, karya Al-Imam Ibnu Sa’d (1/116, 8/223-226)
❀ Siyar A’lamin Nubala`, karya Al-Imam Adz-Dzahabi (2/223-227)

💻 Sumber :
http://asysyariah.com/ummu-aiman/

🎀مجموعة روضة الأطفال🎀

Bagi yang ingin mengambil faedah dari postingan RA yang telah lalu, antunna dapat mengunjungi blog kami :


🔗 http://tamananakshalih.blogspot.com/

Figur Ke-11 : Ruqayyah dan Ummu Kultsum رضي الله عنهما

🎀Figur Shalihah Panutan Wanita Shalihah🎀



🌹Inilah dia wahai ibu...
Figur Wanita Shalihah,
Sebaik-baik cermin...
🔎Untuk kita berkaca padanya...



🌅 Figur Ke-1⃣1⃣



🌸〰🌸Ruqayyah dan Ummu Kultsum رضي الله عنهما 🌸〰🌸

Kisah Perjalanan Dua Cahaya

 

✏ (ditulis oleh : Al-Ustadzah Ummu Abdirrahman Anisah bintu ‘Imran حفظها الله)

 🌾Tumbuh beriringan bak dua kuntum bunga, berhias keindahan. Lepas dari belenggu ikatan, bertabur kemuliaan. Berlabuh di sisi kekasih nan dermawan, sang pemilik dua cahaya.

🍃 Lahir dua orang putri dari rahim ibunya, Khadijah bintu Khuwailid bin Asad bin ‘Abdil ‘Uzza رضي الله عنها. Menyandang nama Ruqayyah dan Ummu Kultsum رضي الله عنهما, di bawah ketenangan naungan seorang ayah yang mulia, Muhammad bin ‘Abdillah bin ‘Abdil Muththalib صلى الله عليه وسلم.

🍂 Sebelum datang masa sang ayah diangkat sebagai nabi Allah, Ruqayyah disunting oleh seorang pemuda bernama ‘Utbah, putra Abu Lahab bin ‘Abdul Muththalib, sementara Ummu Kultsum menikah dengan saudara ‘Utbah, ‘Utaibah bin Abi Lahab. Namun, pernikahan itu tak berjalan lama.

🌾Berawal dengan diangkatnya Muhammad صلى الله عليه وسلم sebagai nabi, menyusul kemudian turun Surat Al-Lahab yang berisi cercaan terhadap Abu Lahab, maka Abu Lahab dan istrinya, Ummu Jamil, menjadi berang. Dia berkata kepada dua putranya, ‘Utbah dan ‘Utaibah yang menyunting putri-putri Rasulullah  صلى الله عليه وسلم, “Haram jika kalian berdua tidak menceraikan kedua putri Muhammad!”

🍃Kembalilah dua putri yang mulia ini dalam keteduhan naungan ayah bundanya, sebelum sempat dicampuri suaminya. Bahkan dengan itulah Allah selamatkan mereka berdua dari musuh-musuh-Nya. Ruqayyah dan Ummu Kultsum pun berislam bersama ibunda dan saudari-saudarinya. Allah سبحانه وتعالى memberikan ganti yang jauh lebih baik. Ruqayyah bintu Rasulillah صلى الله عليه وسلم رضي الله عنها disunting oleh seorang sahabat mulia, ‘Utsman bin ‘Affan رضي الله عنه.

🍂 Sebagaimana kaum muslimin yang lain, mereka berdua menghadapi gelombang ujian yang sedemikian dahsyat melalui tangan kaum musyrikin Mekkah dalam menggenggam keimanan. Hingga akhirnya, pada tahun kelima setelah nubuwah, Allahسبحانه وتعالى bukakan jalan untuk hijrah ke bumi Habasyah, menuju perlindungan seorang raja yang tidak pernah menzalimi siapa pun yang ada bersamanya. ‘Utsman bin ‘Affan رضي الله عنه membawa istrinya di atas keledai, meninggalkan Mekkah, bersama sepuluh orang sahabat yang lainnya, berjalan kaki menuju pantai. Di sana mereka menyewa sebuah perahu seharga setengah dinar.

🌾Di bumi Habasyah, Ruqayyah رضي الله عنها melahirkan seorang putra yang bernama ‘Abdullah. Akan tetapi, putra ‘Utsman ini tidak berusia panjang. Suatu ketika, ada seekor ayam jantan yang mematuk matanya hingga membengkak wajahnya. Oleh sebab musibah ini, ‘Abdullah meninggal dalam usia enam tahun.

🍃Perjalanan mereka belum berakhir. Saat kaum muslimin meninggalkan negeri Makkah untuk hijrah ke Madinah, mereka berdua pun turut berhijrah ke negeri itu. Begitu pun Ummu Kultsum رضي الله عنها, berhijrah bersama keluarga Rasulullah  صلى الله عليه وسلم.

🍂 Selang berapa lama mereka tinggal di Madinah, bergema seruan perang Badr. Para sahabat bersiap untuk menghadapi musuh-musuh Allah. Namun bersamaan dengan itu, Ruqayyah bintu Rasulillahصلى الله عليه وسلم رضي الله عنها  diserang sakit. Rasulullah صلى الله عليه وسلم pun memerintahkan ‘Utsman bin ‘Affan رضي الله عنه untuk tetap tinggal menemani istrinya.

🌾Ternyata itulah pertemuan mereka yang terakhir. Di antara malam-malam peristiwa Badr, Ruqayyah bintu Rasulillah صلى الله عليه وسلم رضي الله عنها kembali ke hadapan Rabb-nya karena sakit yang dideritanya. ‘Utsman bin ‘Affan رضي الله عنه sendiri yang turun untuk meletakkan jasad istrinya di dalam kuburnya.

🍃 Saat diratakan tanah pekuburan Ruqayyah رضي الله عنها, terdengar kabar gembira kegemilangan pasukan muslimin melibas kaum musyrikin yang diserukan oleh Zaid bin Haritsah رضي الله عنه. Kedukaan itu berlangsung bersama datangnya kemenangan, saat Ruqayyah bintu Muhammad صلى الله عليه وسلم رضي الله عنها pergi untuk selama-lamanya pada tahun kedua setelah hijrah.

🍂 Sepeninggal Ruqayyah رضي الله عنها, ‘Umar bin Al Khaththab رضي الله عنه menawarkan kepada ‘Utsman bin ‘Affan رضي الله عنه untuk menikah dengan putrinya, Hafshah bintu ‘Umar رضي الله عنها yang kehilangan suaminya di medan Badr. Namun saat itu ‘Utsman dengan halus menolak. Datanglah ‘Umar bin Al-Khaththab رضي الله عنه ke hadapan Rasulullah صلى الله عليه وسلم  mengadukan kekecewaannya.

🌾Ternyata Allah سبحانه وتعالى memilihkan yang lebih baik dari itu semua. Rasulullah  صلى الله عليه وسلمmeminang Hafshah  رضي الله عنها untuk dirinya, dan menikahkan ‘Utsman bin ‘Affan رضي الله عنه dengan putrinya, Ummu Kultsum رضي الله عنها. Tercatat peristiwa ini pada bulan Rabi’ul Awwal tahun ketiga setelah hijrah.

🍃 Enam tahun berlalu. Ikatan kasih itu harus kembali terurai. Ummu Kultsum رضي الله عنها kembali ke hadapan Rabb-nya pada tahun kesembilan setelah hijrah, tanpa meninggalkan seorang putra pun bagi suaminya. Jasadnya dimandikan oleh Asma’ bintu ‘Umais dan Shafiyyah bintu ‘Abdil Muththalib رضي الله عنهما. Tampak Rasulullah صلى الله عليه وسلمmenshalati jenazah putrinya. Setelah itu, beliau duduk di sisi kubur putrinya. Sembari kedua mata beliau berlinang air mata, beliau bertanya, “Adakah seseorang yang tidak mendatangi istrinya semalam?” Abu Thalhah menjawab, “Saya.” Kata beliau, “Turunlah!”

🍂 Jasad Ummu Kultsum رضي الله عنها  dibawa turun dalam tanah pekuburannya oleh ‘Ali bin Abi Thalib, Al-Fadhl bin Al-‘Abbas, Usamah bin Zaid serta Abu Thalhah Al-Anshari رضي الله عنهم. Ruqayyah dan Ummu Kultsum, dua putri Rasulullah صلى الله عليه وسلم رضي الله عنهما, semoga Allah meridhainya….

🌸 Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.

 

📚 Sumber bacaan :
❀ Al-Isti’ab, karya Al-Imam Ibnu ‘Abdil Barr (hal. 1038, 1839-1842, 1952-1953)
❀ Ath-Thabaqatul Kubra, karya Al-Imam Ibnu Sa’d (8/36-38)
❀ Ats-Tsiqat, karya Al-Imam Ibnu Hibban (2/105)
❀ Fathul Bari, karya Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-‘Asqalani (7/188)
❀ Siyar A’lamin Nubala, karya Al-Imam Adz-Dzahabi (2/250-253
❀ Tahdzibul Kamal, karya Al-Imam Al-Mizzi (19/448)

💻 Sumber :
http://asysyariah.com/ruqayyah-dan-ummu-kultsum-kisah-perjalanan-dua-cahaya/

🎀مجموعة روضة الأطفال🎀

Bagi yang ingin mengambil faedah dari postingan RA yang telah lalu, antunna dapat mengunjungi blog kami :

🔗 http://tamananakshalih.blogspot.com/

Figur Ke-10 : Zainab bintu Rasulillah رضي الله عنها (صلى الله عليه وسلم)

🎀Figur Shalihah Panutan Wanita Shalihah🎀

🌹Inilah dia wahai ibu...
Figur Wanita Shalihah,
Sebaik-baik cermin...
🔎Untuk kita berkaca padanya...

🌅 Figur Ke-1⃣0⃣

🌸〰🌸 Zainab bintu Rasulillah رضي الله عنها (صلى الله عليه وسلم) 🌸〰🌸

✏ (ditulis oleh : Al-Ustadzah Ummu ‘Abdirrahman Anisah bintu ‘Imran حفظها الله)
 

🔦Cinta tak cukup untuk menyatukan dua manusia. Tatkala jalan telah berbeda, tak kan mungkin mereka saling bersama. Namun cahaya keimanan akan mempertemukan kembali yang telah terpisahkan sekian lama.

🌺 Tersebutlah kisah tentang putri pemimpin para nabi. Terlahir dari rahim ibundanya, seorang wanita bangsawan Quraisy, Khadijah bintu Khuwailid bin Asad bin ‘Abdil ‘Uzza bin Qushay Al-Qurasyiyyah رضي الله عنها, saat ayahnya memasuki usia tiga puluh tahun. Dia bernama Zainab bintu Muhammad bin ‘Abdillah رضي الله عنها (صلى الله عليه وسلم).

🌷🌷Semasa hidup ibunya, sang putri yang menawan ini disunting oleh seorang pemuda, Abul ‘Ash bin Ar-Rabi’ bin ‘Abdil ‘Uzza bin ‘Abdisy Syams bin ‘Abdi Manaf bin Qushay Al-Qurasyi namanya. Dia putra Halah bintu Khuwailid, saudari perempuan Khadijah رضي الله عنها. Ketika itu, Khadijah رضي الله عنها menghadiahkan seuntai kalung untuk pengantin putrinya. Dari pernikahan itu, lahir Umamah dan ‘Ali, dua putra-putri Abul ‘Ash.

💥 Tatkala cahaya Islam merebak, Allah سبحانه وتعالى membuka hati Zainab رضي الله عنها untuk menyambutnya. Namun, Abul ‘Ash bin Ar-Rabi’ masih berada di atas agama nenek moyangnya. Dua insan di atas dua jalan yang berbeda. Orang-orang musyrik pun mendesak Abul ‘Ash untuk menceraikan Zainab, namun Abul ‘Ash dengan tegas menolak mentah-mentah permintaan mereka. Akan tetapi, Zainab رضي الله عنها masih pula tertahan untuk bertolak ke bumi hijrah.

🔥Ramadhan tahun kedua setelah hijrah, terukir peristiwa Badr. Dalam pertempuran itu, terbunuh tujuh puluh orang dari pihak musyrikin dan tertawan tujuh puluh orang dari mereka. Di antara tawanan itu ada Abul ‘Ash bin Ar-Rabi’.

💎 Penduduk Makkah pun mengirim tebusan untuk membebaskan para tawanan. Terselip di antara harta tebusan itu seuntai kalung milik Zainab رضي الله عنها untuk kebebasan suaminya. Ketika melihat kalung itu, Rasulullah صلى الله عليه وسلم terkenang pada Khadijah رضي الله عنها yang telah tiada. Betapa terharu hati beliau mengingat putri yang dicintainya. Lalu beliau berkata pada para shahabat, “Apabila kalian bersedia membebaskan tawanan yang ditebus oleh Zainab dan mengembalikan harta tebusan yang dia berikan, lakukanlah hal itu.” Para shahabat pun menjawab, “Baiklah, wahai Rasulullah!”

🎯 Kemudian mereka lepaskan Abul ‘Ash bin Ar-Rabi’ dan mengembalikan seuntai kalung Zainab yang dijadikan harta tebusan itu. Ketika itu, Rasulullah صلى الله عليه وسلم meminta Abul ‘Ash untuk berjanji agar membiarkan Zainab pergi meninggalkan negeri Makkah menuju Madinah. Kemudian Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengutus Zaid bin Haritsah رضي الله عنه bersama salah seorang Anshar sembari berkata, “Pergilah kalian ke perkampungan Ya’juj sampai bertemu dengan Zainab, lalu bawalah dia kemari.”

💨🔥Berpisahlah Zainab رضي الله عنها di atas jalan Islam, meninggalkan suaminya yang masih berkubang dalam kesyirikan. Menjelang peristiwa Fathu Makkah, Abul ‘Ash keluar dari negeri Makkah bersama rombongan dagang membawa barang-barang dagangan milik penduduk Makkah menuju Syam. Dalam perjalanannya, rombongan itu bertemu dengan seratus tujuhpuluh orang pasukan Zaid bin Haritsah yang diutus oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم untuk menghadang rombongan dagang itu. Pasukan muslimin pun berhasil menawan mereka dan mengambil harta yang dibawa oleh rombongan musyrikin itu, namun Abul ‘Ash berhasil meloloskan diri.

⛺ Ketika gelap malam merambah, Abul ‘Ash dengan diam-diam menemui istrinya, Zainab bintu Rasulullah رضي الله عنها, untuk meminta perlindungan. Subuh tiba. Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan para shahabat berdiri menunaikan Shalat Shubuh. Saat itu, Zainab رضي الله عنها berseru dengan suara lantang, “Wahai kaum muslimin, sesungguhnya aku telah memberikan perlindungan kepada Abul ‘Ash bin Ar-Rabi’!”

📣 Usai shalat, Rasulullah صلى الله عليه وسلم menghadap pada para shahabat sembari bertanya, “Kalian mendengar apa yang aku dengar?” “Ya, wahai Rasulullah.” Rasulullah صلى الله عليه وسلم berkata lagi, “Sesungguhnya aku tidak mengetahui apa pun sampai aku mendengar apa yang baru saja kalian dengar.”

❗❗Kemudian Rasulullah صلى الله عليه وسلم menemui putrinya dan berpesan, “Wahai putriku, muliakanlah dia, namun jangan sekali-kali dia mendekatimu karena dirimu tidak halal baginya.” Zainab رضي الله عنها menjawab, “Sesungguhnya dia datang semata untuk mencari hartanya.”

💎💍 Setelah itu Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengumpulkan pasukan Zaid bin Haritsah رضي الله عنه dan berkata pada mereka, “Sesungguhnya Abul ‘Ash termasuk keluarga kami sebagaimana kalian ketahui, dan kalian telah mengambil hartanya sebagai fai’ yang diberikan Allah kepada kalian. Namun aku ingin kalian berbuat kebaikan dan mengembalikan harta itu kepadanya. Akan tetapi kalau kalian enggan, maka kalian lebih berhak atas harta itu.” Para shahabat menjawab, “Wahai Rasulullah, kami akan kembalikan harta itu padanya.”

🎁🎁 Seluruh harta yang dibawa Abul ‘Ash kembali ke tangannya dan tidak berkurang sedikit pun. Segera dia membawa harta itu kembali ke Makkah dan mengembalikan setiap harta titipan penduduk Makkah pada pemiliknya. Lalu dia bertanya, “Apakah masih ada di antara kalian yang belum mengambil kembali hartanya?”. Mereka menjawab, “Semoga Allah memberikan balasan yang baik padamu. Engkau benar-benar seorang yang mulia dan memenuhi janji.” Abul ‘Ash pun kemudian menegaskan, “Sesungguhnya aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya! Demi Allah, tidak ada yang menahanku untuk masuk Islam saat itu, kecuali aku khawatir kalian menyangka bahwa aku memakan harta kalian. Sekarang setelah Allah سبحانه وتعالى tunaikan harta itu kepada kalian masing-masing, aku masuk Islam ."Abul ‘Ash bergegas meninggalkan Makkah, hingga bertemu dengan Rasulullah صلى الله عليه وسلم dalam keadaan Islam.

💐🎀 Enam tahun bukanlah rentang waktu yang sebentar. Akhir penantian yang sekian lama pun menjelang. Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengembalikan putri tercintanya, Zainab رضي الله عنها kepada suaminya, Abul ‘Ash bin Ar- Rabi’ رضي الله عنه, dengan nikahnya yang dulu dan tanpa menunaikan kembali maharnya. Dua insan kini bersama meniti jalan mereka…

☔ Namun, Allah سبحانه وتعالى telah menetapkan taqdir-Nya. Tak lama setelah pertemuan itu, Zainab bintu Rasulullah رضي الله عنها kembali ke hadapan Rabb-nya, pada tahun kedelapan setelah hijrah, meninggalkan kekasihnya untuk selamanya.

🍃💦 Di antara para shahabiyyah yang memandikan jenazahnya, ada Ummu ‘Athiyyah Al-Anshariyah رضي الله عنها. Darinya terpapar kisah dimandikannya jenazah Zainab رضي الله عنها, sesuai perintah Rasulullah صلى الله عليه وسلم, dengan guyuran air bercampur daun bidara. Seusai itu, rambut Zainab رضي الله عنها dijalin menjadi tiga jalinan. Jenazahnya dibungkus dengan kain Rasulullahصلى الله عليه وسلم. Putri pemimpin para nabi itu telah pergi…

🌺 Zainab bintu Rasulillah رضي الله عنها (صلى الله عليه وسلم), semoga Allah meridhainya…

Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.

 

📚 Sumber bacaan :
❀ Al-Isti’ab, karya Al-Imam Ibnu ‘Abdil Barr (4/1701-1704,1853-1854)
❀ Ath-Thabaqatul Kubra, karya Al-Imam Ibnu Sa’d (8/30-35)
❀ Mukhtashar Sirah Ar-Rasul, karya Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil Wahhab (hal. 110-117)
❀ Shahih As-Sirah An-Nabawiyah, karya Ibrahim Al-‘Ali (hal. 192)
❀ Siyar A’lamin Nubala, karya Al-Imam Adz-Dzahabi (2/246-250)

💻 Sumber : 

http://asysyariah.com/zainab-bintu-rasulullah/

🎀مجموعة روضة الأطفال🎀

Bagi yang ingin mengambil faedah dari postingan RA yang telah lalu, antunna dapat mengunjungi blog kami :

🔗 http://tamananakshalih.blogspot.com/

Figur Ke-9 : Zainab bintu Khuzaimah رضي الله عنها

🎀Figur Shalihah Panutan Wanita Shalihah🎀

🌹Inilah dia wahai ibu...
Figur Wanita Shalihah,
Sebaik-baik cermin...
🔎Untuk kita berkaca padanya...

🌅 Figur Ke-9⃣

🌸〰🌸 Zainab bintu Khuzaimah رضي الله عنها 🌸〰🌸

~❃❀Sebuah Kisah dalam Sepenggal Masa❀❃~

 

✏(ditulis oleh : Al-Ustadzah Ummu Abdirrahman Anisah bintu ‘Imran حفظها الله)

 

🍞🍏 Dalam perjalanan hidup Nabi صلى الله عليه وسلم  yang mulia, tercatat tentang seorang wanita yang begitu pemurah dan dermawan. Namun, siapa gerangan yang dapat menolak keputusan Rabb semesta alam? Hingga wanita itu hanya sejenak menemani hari-hari Rasulullah صلى الله عليه وسلم yang mulia.

〰🌺 Wanita itu bernama Zainab bintu Khuzaimah bin Abdillah bin ‘Umar bin ‘Abdi Manaf bin Hilal bin ‘Amir bin Sha’sha’ah Al-Hilaliyyah رضي الله عنها.

🍇🍱🍒 Semenjak masa jahiliyyah, dia dikenal sebagai wanita yang sangat pemurah. Dia gemar mengulurkan tangan untuk memberi makan dan menunaikan sedekah kepada orang-orang miskin. Dia bagaikan seorang ibu bagi mereka, hingga sejak sebelum masa Islam pun dia telah diberi gelar Ummul Masaakin.

🌂 Wanita mulia yang dipersunting oleh Abdullah bin Jahsy رضي الله عنه. Namun, perjalanan mereka berakhir di tengah kancah pertempuran Uhud. Abdullah bin Jahsy رضي الله عنه gugur dalam peperangan itu. Zainab bintu Khuzaimah رضي الله عنها kehilangan sisian hidupnya.

🎁🎀 Tak selang berapa lama, datang ke hadapannya pinangan dari seseorang yang teramat mulia. Dia pun menyambut dengan sepenuh hatinya. Tahun ketiga setelah hijrah menjadi saat bersejarah, kala Zainab bintu Khuzaimah رضي الله عنها memulai langkah mendampingi  Rasulullah صلى الله عليه وسلم, dengan mahar dari beliau sebesar dua belas setengah ‘uqiyah.

👣Namun sungguh, tak ada yang dapat menduga dan mengira. Perjalanannya bersama  Rasulullah صلى الله عليه وسلم tak berlangsung lama. Hanya terbilang dua hingga tiga bulan setelah pernikahannya dengan  Rasulullah صلى الله عليه وسلم, Zainab bintu Khuzaimah رضي الله عنها mendahului kekasihnya kembali ke hadapan Rabbnya, dalam usia kurang lebih tiga puluh tahun.

🍃🍂 Perjalanannya yang begitu singkat membuat Zainab bintu Khuzaimah رضي الله عنها belum sempat mereguk riwayat dari suaminya. Namun kebaikannya yang berlimpah, kedudukannya sebagai ibu bagi kaum muslimin adalah kemuliaan yang membiaskan keharuman.

🌹🌹 Zainab bintu Khuzaimah رضي الله عنها, semoga Allah meridhainya….

Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab…

 

📚 Sumber bacaan :

➫Al-Ishabah, karya Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-‘Asqalani (7/672)
➫ Al-Isti’ab, karya Al-Imam Ibnu ‘Abdil Barr (4/1853)
➫ Ath-Thabaqatul Kubra, karya Al-Imam Ibnu Sa’d (8/115)
➫ Siyar A’lamin Nubala, karya Al-Imam Adz-Dzahabi (2/218)

💻 Sumber :
http://asysyariah.com/zainab-bintu-khuzaimah-sebuah-kisah-dalam-sepenggal-masa/

🎀مجموعة روضة الأطفال🎀

Bagi yang ingin mengambil faedah dari postingan RA yang telah lalu, antunna dapat mengunjungi blog kami :

🔗 http://tamananakshalih.blogspot.com/

Sabtu, 17 Oktober 2015

Figur Ke-8 : Mariyah Al-Qibthiyyah رضي الله عنها

🎀Figur Shalihah Panutan Wanita Shalihah🎀

🌹Inilah dia wahai ibu...
Figur Wanita Shalihah,
Sebaik-baik cermin...
🔎Untuk kita berkaca padanya...

🌅 Figur Ke-8⃣

🌸〰🌸 Mariyah Al-Qibthiyyah رضي الله عنها 🌸〰🌸
Kisah Seorang Sahaya Mulia

 

📝 (ditulis oleh Al-Ustadzah Ummu ‘Abdirrahman Anisah bintu ‘Imran حفظها الله )

⛅ Dia memang seorang sahaya. Namun siapakah yang dapat menahan bila Rabbnya hendak memuliakannya ? Ketika cahaya iman menyusup dalam hatinya, ketika pesona dirinya menawan hati manusia yang paling mulia, dia pun memulai perjalanan yang penuh kemuliaan…

📜 Kembali dari Hudaibiyah, usai mengikat perjanjian dengan kaum Quraisy, pada bulan Dzulqa’dah tahun keenam setelah hijrah, Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengutus para shahabat ke berbagai negeri untuk menyerukan Islam. Hathib bin Abi Balta’ah رضي الله عنه termasuk salah seorang duta Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Dia diutus ke hadapan Al-Muqauqis, penguasa Iskandariyah, Mesir, dengan membawa sepucuk surat dari Rasulullah صلى الله عليه وسلم yang berisi ajakan untuk masuk ke dalam Islam.

🎁 Al-Muqauqis pun menerima dengan baik surat Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Dia membacanya dan membalasnya dengan mengirim hadiah bagi Rasulullah صلى الله عليه وسلم empat orang sahaya perempuan, seorang sahaya laki-laki yang telah dikebiri bernama Ma’bur, seekor bighal*) bernama Duldul, seekor keledai bernama ‘Ufair, dan hadiah lainnya.

💐 Di antara para sahaya perempuan, ada seorang gadis molek berkulit putih bernama Mariyah bintu Syam’un Al-Qibthiyyah, beserta saudarinya, Sirin. Ibu Mariyah adalah seorang wanita Romawi.

🌙 Hathib bin Abi Balta’ah رضي الله عنه kembali dengan membawa seluruh hadiah dari Al-Muqauqis. Kepada para sahaya yang dibawanya, Hathib رضي الله عنه menawarkan agar masuk Islam. Gayung pun bersambut. Allah melapangkan jiwa raga Mariyah Al-Qibthiyyah dan saudarinya, Sirin, untuk menerima Islam sedangkan Ma’bur baru berislam setelah di Madinah.

🌺 Mariyah Al-Qibthiyyah رضي الله عنها, seorang wanita dengan kecantikan yang begitu memikat. Saat melihatnya, Rasulullah صلى الله عليه وسلم pun tertarik hingga memilihnya sedangkan Sirin, beliau menghadiahkannya pada Hassan bin Tsabit Al-Anshari رضي الله عنه yang kelak darinya lahir ‘Abdurrahman bin Hassan bin Tsabit.

🍭 Hari bergulir, waktu pun berselang. Tergurat kisah pada diri Mariyah. Bulan Dzulhijjah tahun kedelapan setelah hijrah. Mariyah Al-Qibthiyyah رضي الله عنها melahirkan putra Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Salma, maula (bekas budak) Rasulullah صلى الله عليه وسلم, istri Abu Rafi’, yang menolong dan mendampingi Mariyah saat itu. Setelah bayi mungil itu lahir, Salma segera mengabarkan kepada suaminya. Bersegera pula Abu Rafi’ beranjak menyampaikan kabar gembira ini kepada Rasulullahصلى الله عليه وسلم. Kebahagiaan dan suka cita mewarnai hati Rasulullah صلى الله عليه وسلم hingga beliau menghadiahkan seorang budak kepada Abu Rafi’.

🍖🍚 Tujuh hari setelah itu, Rasulullah صلى الله عليه وسلم menyelenggarakan aqiqah bagi putranya. Saat itu pula beliau mencukur rambut bayi laki-laki itu dan memberinya nama dengan nama bapak para nabi, Ibrahim. Bergelarlah kini Mariyah bintu Syam’un Al-Qibthiyyah رضي الله عنها dengan Ummu Ibrahim. Lalu Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersedekah dengan perak seberat rambut Ibrahim untuk orang-orang miskin, dan memerintahkan orang-orang untuk menguburkan rambut itu. Bayi itu pun kemudian diserahkan kepada Ummu Saif, istri Abu Saif, untuk disusui.

☁ Namun, tak ada yang bisa menolak ketetapan Allahسبحانه وتعالى. Ternyata tidak panjang usia Ibrahim. Dia meninggal di tengah masa penyusuannya pada Ummu Saif. Sembari memeluk tubuh Ibrahim, dengan berlinang air mata, Rasulullah صلى الله عليه وسلمberkata, “Wahai Ibrahim, kalaulah bukan karena ini adalah perkara yang pasti terjadi dan janji yang benar, dan kalaulah bukan karena orang-orang yang akhir akan menyusul orang-orang yang mendahuluinya, sungguh kami akan merasa sedih dengan kesedihan yang lebih dari ini. Sungguh, kami sangat bersedih atasmu, wahai Ibrahim…”.

💦 Di tengah kepiluan, Rasulullah صلى الله عليه وسلمmengatakan, “Air mata berlinang dan hati pun merasa sedih. Namun kami tidak akan mengucapkan sesuatu yang membuat murka Rabb kami”. Ibrahim, putra Rasulullah صلى الله عليه وسلم dari Mariyah Al-Qibthiyyah, telah tiada. Dia dikuburkan di pekuburan Baqi’.

💎 Tergores peristiwa ini pada tahun kesepuluh setelah hijrah. Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengabarkan tentang putranya, “Dia mendapat ibu susu di dalam surga yang akan menyempurnakan susuannya”.

🌕 Bertepatan dengan meninggalnya Ibrahim, terjadi gerhana matahari. Orang-orang pun menganggap peristiwa itu terjadi karena kematian Ibrahim. Rasulullah صلى الله عليه وسلم pun kemudian berkhutbah, “Sesungguhnya matahari dan rembulan adalah dua di antara ayat-ayat Allah. Keduanya tertutup bukan karena kematian ataupun hidupnya seseorang. Oleh karena itu, apabila kalian melihat peristiwa itu, bersegeralah untuk berdzikir kepada Allah dan menunaikan shalat”.

🌸 Mariyah Al-Qibthiyyah رضي الله عنها melalui hari-harinya bersama Rasulullah صلى الله عليه وسلم hingga beliau wafat. Sepeninggal beliau صلى الله عليه وسلم, Abu Bakr Ash-Shiddiq رضي الله عنه memberikan infak kepada Mariyah sampai Abu Bakr meninggal, kemudian dilanjutkan oleh Amirul Mukminin ‘Umar ibnul Khaththab رضي الله عنه.

☔ Lima tahun setelah wafatnya Rasulullah صلى الله عليه وسلم, tahun keenam belas setelah hijrah, pada masa pemerintahan ‘Umar ibnul Khaththab رضي الله عنه, Mariyah bintu Syam’un Al-Qibthiyyah رضي الله عنها kembali ke hadapan Rabbnya. Saat itu, Amirul Mukminin رضي الله عنه mengumpulkan manusia untuk menghadiri jenazahnya dan menshalati, kemudian menguburkan di pekuburan Baqi’.

🌹 Mariyah bintu Syam’un Al-Qibthiyya رضي الله عنها , semoga Allah meridhainya…

 

📚 Sumber bacaan :
➲ Al-Ishabah, karya Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-’Asqalani (8/111-112)
➲ Al-Isti’ab, karya Al-Imam Ibnu ‘Abdil Barr (1/54-59, 4/1912)
➲ Ath-Thabaqatul Kubra, karya Al-Imam Ibnu Sa’d (1/134-136)

 

👣 Catatan kaki :

*) Bighal adalah peranakan kuda dengan keledai, lebih kecil daripada kuda dan lebih besar daripada keledai. 

 
http://asysyariah.com/mariyah-al-qibthiyyah-kisah-seorang-sahaya-mulia/

🎀مجموعة روضة الأطفال🎀

Bagi yang ingin mengambil faedah dari postingan RA yang telah lalu, antunna dapat mengunjungi blog kami :

🔗 http://tamananakshalih.blogspot.com/

Rabu, 07 Oktober 2015

Figur Ke-6 : Juwariyah bintu Al-Harits رضي الله عنها

🎀Figur Shalihah Panutan Wanita Shalihah🎀

🌹Inilah dia wahai ibu...
Figur Wanita Shalihah,
Sebaik-baik cermin...
🔎Untuk kita berkaca padanya...

🌅 Figur Ke-6⃣

🌸〰🌸 Juwariyah Bintu Al-Harits رضي الله عنها🌸〰🌸
Kepak Kebebasan Dalam Jalinan Kasih Sayang

 
✏(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Abdirrahman bintu Imran حفظها الله )

🌺 Wanita itu memesona setiap pandangan yang menatapnya, berpadu dengan kemuliaan dalam diri seorang wanita bangsawan. Di tengah kegundahan kaumnya, dia berikan pula segenap kebaikan lewat sebuah kebebasan.

🌸🎀Wanita itu bernama Juwairiyah bintu al-Harits bin Abi Dhirar bin Habib bin Judzaimah al-Mushthaliq bin ‘Amr bin Rabi’ah bin Haritsah bin ‘Amr al-Khuza’iyah al-Mushthaliqiyah. Seorang putri pemimpin Bani al-Mushthaliq. Dijalaninya kehidupan rumah tangga bersama putra pamannya, Musafi’ bin Shafwan bin Dzisy Syaqar bin Abis Sarh, hingga saat Musafi’ terbunuh dalam peperangan al-Muraisi’.

🎯 Medan pertempuran al-Muraisi’, diawali oleh usaha al-Harits bin Abi Dhirar yang menghimpun kaumnya untuk memerangi Rasulullah صلى الله عليه وسلم  di Madinah. Sementara sebelum itu, Bani al-Mushthaliq telah berpihak pada musyrikin Quraisy pada peristiwa pertempuran Uhud. Tatkala berita itu sampai kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم , beliau segera mempersiapkan penyerangan terhadap mereka.

💥 Bulan Sya’ban tahun kelima setelah hijrah. Bersama para sahabat, Rasulullah صلى الله عليه وسلم  bertolak hingga tiba di al-Muraisi’, mata air milik Bani al-Mushthaliq. Dengan pertolongan Allah سبحانه وتعالى, kaum muslimin berhasil menyerang mereka saat mereka lengah.

🚩Medan pertempuran al-Muraisi’ membawa kegemilangan bagi kaum muslimin. Kala itu kaum muslimin berhasil membunuh orang-orang Bani Mushthaliq yang memerangi mereka, sementara yang tersisa di antara mereka adalah para wanita dan anak-anak sebagai tawanan. Harta rampasan perang yang berlimpah pun jatuh dalam genggaman kaum muslimin. Rasulullah صلى الله عليه وسلم  membagi-bagikan para tawanan kepada para sahabat. Di antara para wanita yang tertawan, ada Juwairiyah bintu al-Harits. Putri bangsawan kaumnya itu kini jatuh dalam kepemilikan Tsabit bin Qais bin asy-Syammas  رضي الله عنه.

🚧 Kenyataan pahit yang membentang di hadapannya membuat Juwairiyah berusaha melepaskan diri. Dia begitu ingin menggapai kembali kemerdekaan dirinya. Sementara untuk itu, dia harus membayar tebusan. Dia pun melangkah ke hadapan Rasulullah صلى الله عليه وسلم  untuk meminta pertolongan beliau yang mulia.

🔥Saat itu, ‘Aisyah رضي الله عنها melihatnya dari balik pintu kamarnya. Menyaksikan parasnya, ada yang bergejolak dalam hati ‘Aisyah رضي الله عنها. ‘Aisyah berkisah, “Dia adalah wanita cantik yang menawan hati setiap yang memandangnya. Demi Allah, tatkala aku melihatnya dari balik pintu, aku tidak menyukainya. Aku tahu, Rasulullah صلى الله عليه وسلم  akan melihat kecantikan yang ada pada dirinya.”

💦 👣Langkah Juwairiyah berhenti di hadapan Rasulullahصلى الله عليه وسلم . Dia pun berkata, “Wahai Rasulullah, aku adalah Juwairiyah, putri al-Harits pemimpin kaumnya. Aku ditimpa musibah yang engkau sendiri telah mengetahuinya. Aku jatuh ke tangan Tsabit bin Qais atau sepupunya, dan sekarang aku ingin membebaskan diri. Maka ulurkan pertolonganmu untuk memerdekakan diriku.”

🌹🎁 Rasulullah صلى الله عليه وسلم  mengetahui bahwa Bani al-Mushthaliq adalah kaum yang mulia di kalangan Arab. Tentu para wanita mereka merasakan berat berada dalam tawanan kaum muslimin. Layak tentunya mereka mendapat perlakuan yang mulia. Maka usai mendengar penuturan Juwairiyah, Rasulullah صلى الله عليه وسلم  berkata kepadanya, “Apakah engkau mau yang lebih baik daripada itu? Aku bebaskan dirimu, kemudian aku menikah denganmu.” Juwairiyah pun menjawab, “Baiklah, wahai Rasulullah.”

🚪🎀Tercatatlah dalam sejarah perjalanan hidupnya saat itu, tahun kelima setelah hijrah, ketika usianya memasuki dua puluh tahun, Juwairiyah bintu al-Haritsرضي الله عنها memasuki rumah tangga Rasulullahصلى الله عليه وسلم  sebagai salah seorang ibu bagi kaum mukminin.

🔓 Mendengar peristiwa itu, para sahabat yang memiliki tawanan dari kalangan Bani al-Mushthaliq mengatakan, “Tidak pantas kita menawan mereka. Mereka adalah ipar-ipar Rasulullah صلى الله عليه وسلم ". Serta-merta mereka bebaskan seluruh Bani al-Mushthaliq yang ada di tangan mereka. Dengan pernikahan itu, terlepaslah seratus orang keluarga Bani al-Mushthaliq. Perlakuan kaum muslimin yang demikian memuliakan Bani al-Mushthaliq yang tertawan menyebabkan mereka masuk Islam, hingga ‘Aisyah رضي الله عنها menyatakan, “Aku tidak pernah mengetahui seorang wanita yang paling besar berkahnya bagi kaumnya selain Juwairiyah.”

🌈 Inilah kemuliaan yang disandangnya. Terlebih lagi setelah berdampingan dengan Rasulullah صلى الله عليه وسلم . Dia mendapatkan curahan ilmu dari suaminya yang mulia, di antaranya berkaitan dengan peristiwa yang terjadi pada dirinya.

🏡 Pada suatu hari Jum’at, Rasulullah صلى الله عليه وسلم  mengunjungi Juwairiyah رضي الله عنها. Kala itu, dia sedang berpuasa. Rasulullah صلى الله عليه وسلم  bertanya kepadanya, “Apakah engkau berpuasa kemarin?” Juwairiyah mengatakan, “Tidak, wahai Rasulullah.” Kembali beliau bertanya, “Apakah engkau ingin berpuasa esok hari?” Juwairiyah pun menjawab, “Tidak.” Mendengar itu, beliau mengatakan, “Kalau demikian, berbukalah!”

📜Gambaran kehidupan yang diwarnai pengajaran dari seorang suami yang mulia, hingga riwayat Juwairiyahرضي الله عنها menghiasi catatan orang-orang yang pernah mengambil ilmu darinya.

☁☔ Kemuliaan itu terus menemani dirinya hingga tiba saat dia harus kembali kepada Rabb-nya, tahun kelima puluh setelah hijrah. Tampak Marwan bin al-Hakam رضي الله عنه  di antara orang-orang yang berdiri menshalatinya. Wanita mulia itu telah tiada.

🌸 Juwairiyah bintu al-Harits, semoga Allah سبحانه وتعالى meridhainya….

📚 Sumber Bacaan :
➲Al-Ishabah, al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani (7/565—566)
➲ Al-Isti’ab, al-Imam Ibnu ‘Abdil Barr (4/1804—1805)
➲ Fathul Bari, al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani (4/273)
➲ Nurul Yaqin, Muhammad al-Khudhari (hlm. 121—122)
➲ Siyar a’lamin Nubala, al-Imam adz-Dzahabi (2/261—265)
➲ Shahih as-Sirah an-Nabawiyyah, Ibrahim al-‘Aly (hlm. 245—251)
➲ Tahdzibul Kamal, al-Imam al-Mizzi (35/145—146)

http://asysyariah.com/juwariyah-bintu-al-harits-kepak-kebebasan-dalam-jalinan-kasih-sayang/

🎀مجموعة روضة الأطفال🎀

Bagi yang ingin mengambil faedah dari postingan RA yang telah lalu, antunna dapat mengunjungi blog kami :

🔗 http://tamananakshalih.blogspot.com/

Figur Ke-7 : Maimunah bintu Al Harits رضي الله عنها

🎀Figur Shalihah Panutan Wanita Shalihah🎀

🌹Inilah dia wahai ibu...
Figur Wanita Shalihah,
Sebaik-baik cermin...
🔎Untuk kita berkaca padanya...

🌅 Figur Ke-7⃣

🌸〰🌸 Maimunah bintu Al Harits رضي الله عنها 🌸〰🌸
☔Anugrah Cinta Dalam Asa

 
✏(ditulis oleh : Al-Ustadzah Ummu Abdirrahman Anisah bintu ‘Imran حفظها الله )

 
🍃🍂 Untuk apakah kiranya rentang usia bila bukan untuk kemuliaan ? Berita kedatangan Khairul Anam di tanah kelahirannya dalam nuansa kemenangan Khaibar disambut oleh seorang wanita mulia dengan sarat harapan. Ingin menyatakan ketundukannya pada Rabbnya, ingin berdamping hidup dengan Rasul-Nya…

⛺Gema kemenangan pasukan kaum muslimin setelah merebut Khaibar terasa di Madinah. Tak selang berapa lama, pada bulan Dzulqa’dah tahun ketujuh setelah hijrah, Rasulullah صلى الله عليه وسلم disertai para shahabat bersiap untuk menunaikan umrah qadha yang sempat tertunda setahun lamanya dengan adanya perjanjian Hudaibiyah. Kaum muslimin bermaksud menetap di Makkah, negeri yang mereka rindukan, selama tiga hari.

🌙 Berangkatlah Rasulullah صلى الله عليه وسلم ke negeri Makkah. Sementara di sana, ada seorang wanita mulia yang hendak menyongsong turunnya kebaikan dari sisi Rabbnya.

🌺 Wanita itu bernama Maimunah bintu Al-Harits bin Hazn bin Jabir bin Al-Hazm bin Ruwaibah bin Abdullah bin Hilal bin ‘Amir bin Sha’sha’ah bin Mu’awiyah bin Bakr bin Hawazin bin Manshur bin ‘Ikrimah bin Hafshah bin Qais Ailan bin Mudlar Al-Hilaliyah رضي الله عنها. Ibunya bernama Hindun bintu ‘Auf bin Zuhair bin Al-Harits.

💐 Saudara-saudara perempuannya adalah wanita-wanita yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, para ibu shahabat yang mulia. Di antara mereka ada Ummul Fadhl Lubabah Al-Kubra bintu Al-Harits رضي الله عنها, istri Al-’Abbas bin Abdul Muththalib رضي الله عنه, ibu Abdullah bin ‘Abbas رضي الله عنهما. Juga Lubabah Ash-Shughra bintu Al-Harits رضي الله عنها, istri Al-Walid bin Al-Mughirah, yang melahirkan Pedang Allah, Khalid ibnul Walid رضي الله عنه. Demikian pula saudaranya seibu, Asma bintu Umaisرضي الله عنها, istri Ja’far bin Abi Thalib رضي الله عنه, kemudian sepeninggal Ja’far رضي الله عنه menikah dengan Abu Bakr Ash-Shiddiq رضي الله عنه, dan disusul pernikahannya dengan ‘Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه setelah Abu Bakr رضي الله عنه wafat.

🌵 Sebelum masa kedatangan Islam, Maimunah yang kala itu masih bernama Barrah disunting oleh Mas’ud bin ‘Amr bin ‘Umair Ats-Tsaqafi. Namun perjalanan dua insan ini tak bertahan lama, karena harus berakhir dengan perceraian. Kemudian Maimunah menjalin ikatan pernikahan dengan Abu Rahm bin Abdil ‘Uzza. Namun, jalinan ini pun harus terurai karena Abu Rahm meninggal.

🇸🇦 🌴 Maimunah pun menjalani kesendiriannya di negeri Makkah. Dia berada di antara kaum muslimin yang menyembunyikan keimanan dalam jiwanya. Betapa inginnya Maimunah saat itu untuk mendapatkan kemuliaan sebagai salah satu di antara ibu-ibu kaum mukminin. Keinginannya pun terungkap di hadapan saudarinya, Ummul Fadhl رضي الله عنها, yang segera menyampaikan kepada suaminya, Al-‘Abbas رضي الله عنه.

✅ Al-’Abbas pun menyampaikan keinginan Maimunah kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم  . Dikatakan kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم , “Sesungguhnya Maimunah telah menjanda. Apakah engkau suka bila kunikahkan engkau dengannya?” Rasulullah صلى الله عليه وسلم   menyambut keinginan itu.

🎀 Dalam perjalanannya ke negeri Makkah, Rasulullah mengutus Ja’far bin Abi Thalib رضي الله عنه yang kala itu baru kembali dari hijrahnya ke Habasyah bersama kaum muslimin untuk mendahului beliau memasuki Makkah. Melalui Ja’far bin Abi Thalib رضي الله عنه, Rasulullah صلى الله عليه وسلمmenyampaikan pinangan beliau terhadap Maimunahرضي الله عنها. Maimunah pun menyerahkan urusan pernikahan ini kepada Al-‘Abbas رضي الله عنه.

🎁 Pada tahun itu, Al-’Abbas menikahkan Maimunahرضي الله عنها dengan Rasulullah صلى الله عليه وسلم, dengan mahar 500 dirham. Maimunah رضي الله عنها akhirnya meninggalkan kesendiriannya, memasuki gerbang rumah tangga bersama seseorang yang teramat mulia, Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Dialah wanita terakhir yang memasuki perjalanan rumah tangga Rasulullah صلى الله عليه وسلم  .

💥 Namun, waktu berjalan begitu cepat. Setelah tiga hari berlalu, Suhail bin ‘Amr bersama serombongan penduduk Makkah mendatangi Rasulullah صلى الله عليه وسلم   seraya berkata, “Wahai Muhammad ! Cepat keluar dari sini! Ini adalah hari terakhir bagimu”. Mendengar ucapan itu, Rasulullah صلى الله عليه وسلم   berkata, “Biarkan aku sejenak di sini agar aku bisa bermalam dengan istriku. Aku akan membuat makanan untuk menjamu kalian”. Namun Suhail bin ‘Amr segera menukas, “Tidak!”

⛺ Akhirnya Rasulullah صلى الله عليه وسلم   membawa serta Maimunah رضي الله عنها keluar dari negeri Makkah untuk kembali ke Madinah. Tiba di Sarf, sekitar 10 mil dari kota Makkah, beliau pun singgah. Di sana, di tenda Maimunah, beliau bermalam pengantin bersama Maimunah رضي الله عنها.

📚 Wanita mulia yang menginginkan kemuliaan. Dari kehidupan rumah tangganya, dia menimba banyak faidah dari suami tercinta. Betapa banyak deretan nama yang mengambil riwayat darinya, hingga tertulislah namanya menghiasi berbagai kitab yang merangkum hadits yang mulia.

☔ 🍃 Duhai, tibalah saat wanita mulia ini harus kembali kepada Rabbnya, meninggalkan keharuman kenangan akan segenap kebaikan. Nampak di antara orang-orang yang menshalati jenazahnya, Abdullah bin ‘Abbas رضي الله عنهما. Kala itu, Abdullah bin ‘Abbas رضي الله عنهما berpesan, “Kalau kalian mengangkat jenazahnya, hendaknya kalian berlemah lembut dan jangan menggoncangkannya, karena dia adalah ibu kalian”.

👣 Dibawalah Maimunah رضي الله عنها di atas pundak orang-orang yang mengusungnya atas perintah Ibnu ‘Abbas رضي الله عنهما. Lalu Ibnu ‘Abbas bersama kemenakan Maimunah رضي الله عنها yang lain, Yazid bin Al-Asham dan Abdullah bin Syaddad, disertai ‘Ubaidullah Al-Khaulani, seorang yatim yang ada di rumah Maimunah رضي الله عنها masuk ke dalam kubur Maimunah untuk meletakkan jenazahnya.

💦Pada tahun ke-51 setelah hijrah itu, Maimunah bintu Al-Harits رضي الله عنها meninggalkan kaum muslimin untuk selama-lamanya. Dia dikuburkan di Sarf, di tempat malam pengantinnya yang penuh kenangan bersama Rasulullah صلى الله عليه وسلم  .

🌾 Duhai, inilah saat berakhirnya catatan kehidupan seorang wanita mulia yang begitu berkesan, hingga ‘Aisyah رضي الله عنها pun mengatakan, “Telah pergi seorang yang paling takwa di antara kami, dan paling senang menyambung hubungan kasih sayang”.

🌸 Maimunah bintu Al-Harits, semoga Allah meridhainya…

Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.

 

📚 Sumber bacaan :

➲Al-Ishabah, karya Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-’Asqalani (8/126-128)
➲Al-Isti’ab, karya Al-Imam Ibnu Abdil Barr (4/1914-1918)
➲Siyar A’lamin Nubala, karya Al-Imam Adz-Dzahabi (2/238-245)
➲Tahdzibul Kamal, karya Al-Imam Al-Mizzi (35/312)
➲Thabaqatul Kubra, karya  Al-Imam Ibnu Sa’d (8/132-137)

💻 http://asysyariah.com/maimunah-bintu-al-harits-anugrah-cinta-dalam-asa/

🎀مجموعة روضة الأطفال🎀

Bagi yang ingin mengambil faedah dari postingan RA yang telah lalu, antunna dapat mengunjungi blog kami :

🔗 http://tamananakshalih.blogspot.com/

Senin, 21 September 2015

Figur Ke-5 : Zainab bintu Jahsy رضي الله عنها

🎀Figur Shalihah Panutan Wanita Shalihah🎀

🌹Inilah dia wahai ibu...
Figur Wanita Shalihah,
Sebaik-baik cermin...
🔎Untuk kita berkaca padanya...

🌅 Figur Ke-5⃣

🌸〰🌸 Zainab bintu Jahsy رضي الله عنها🌸〰🌸

✏(ditulis oleh : Al-Ustadzah Ummu Abdirrahman bintu Imran حفظها الله)

💬 Terasa berat baginya kala itu menerima keputusan Rasul صلى الله عليه وسلم yang mulia. Wanita bangsawan harus bersanding dengan seorang bekas sahaya. Namun, segala keinginan dan kegundahan ditepisnya di hadapan Allah سبحانه وتعالى dan Rasul-Nya صلى الله عليه وسلم hingga menggiring keindahan hidup di sisi utusan Rabb-nya.

🌸 Wanita itu bernama Zainab bintu Jahsy bin Ri’ab bin Ya’mur bin Shabirah bin Murrah bin Katsir bin Ghanm bin Dudan bin Asad bin Khuzaimah al-Asadiyah رضي الله عنها. Semula ia bernama Barrah. Ibunya adalah bibi Rasulullah صلى الله عليه وسلم, Umaimah bintu ‘Abdil Muththalib bin Hasyim رضي الله عنها.

🌀Wanita bangsawan yang dipinang oleh Rasulullahصلى الله عليه وسلم untuk bekas budaknya yang pernah diangkat beliau sebagai anak, Zaid bin Haritsah رضي الله عنه. Entah bagaimana perasaan Zainab saat itu, seorang wanita bangsawan hendak menikah dengan seorang bekas budak. Serta-merta ia menolak tawaran Rasulullah صلى الله عليه وسلمkepadanya. Namun Rasulullah صلى الله عليه وسلم tetap bersikukuh.

⁉ Di tengah perbincangan itu, Allah سبحانه وتعالى menegur sikap Zainab, “Tidak layak bagi orang-orang yang beriman, laki-laki ataupun perempuan, apabila Allah dan Rasul-Nya menetapkan suatu perkara, akan ada pilihan lain dari urusan mereka.”

💦Tak ada pilihan lain bagi Zainab selain menerima apa yang diputuskan oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلمatas dirinya. Tak boleh tersirat dalam dirinya selain kerelaan dan ketundukan, hingga terucap dari lisannya, “Aku ridha untuk menikah dengannya, wahai Rasulullah.”

💥 Dijalaninya hari-hari dalam mahligai rumah tangganya bersama Zaid bin Haritsah رضي الله عنه . Namun ketidaksesuaian di antara mereka tak dapat tersembunyi. Hingga akhirnya Zaid pun mengadukan segala yang ada antara dia dan Zainab kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم.

🗻 Sementara itu, telah sampai kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم berita dari langit, suatu ketika nanti Zaid akan menceraikan Zainab dan Zainab akan bersisian dengan beliau sebagai istri. Allah سبحانه وتعالىmenetapkan demikian untuk membatalkan adat pengangkatan anak (maksudnya ala jahiliah, yaitu mengadopsi anak dengan nasab kepada ayah angkat). Namun adat jahiliah pada masa itu memandang dengan penuh aib pada seseorang yang menikah dengan bekas istri anak angkatnya, hingga Rasulullah صلى الله عليه وسلم pun menyembunyikan semua itu karena khawatir dengan pandangan manusia terhadap diri beliau.

🚫 Tatkala Zaid datang mengungkapkan apa yang terjadi, Muhammad صلى الله عليه وسلم mengatakan, “Bertakwalah kepada Allah dan tahanlah istrimu agar tetap di sisimu!”

🔆 Namun, siapa yang dapat menghalangi bila Allahسبحانه وتعالى telah menghendaki sesuatu ? Bahkan Allah سبحانه وتعالى akan melaksanakan apa yang Dia kehendaki. Allah سبحانه وتعالى turunkan kalam-Nya yang memberikan teguran kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم :

“Dan ingatlah ketika engkau berkata kepada orang yang telah Allah limpahkan nikmat kepadanya dan engkau pun telah memberikan nikmat kepadanya, ‘Tahanlah terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah’, sementara engkau menyembunyikan dalam hatimu apa yang Allah hendak menyatakannya, dan engkau takut kepada manusia, padahal Allah-lah yang lebih berhak untuk engkau takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluannya terhadap istrinya, Kami nikahkan engkau dengannya, agar tidak ada keberatan bagi orang-orang yang beriman untuk menikahi istri-istri anak angkat mereka, apabila anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya terhadap istrinya. Sesungguhnya ketetapan Allah pasti terjadi.” (al-Ahzab: 37)

💐 Usai masa ‘iddah Zainab dari Zaid, Rasulullah صلى الله عليه وسلم memerintahkan Zaid bin Haritsah رضي الله عنه  untuk menyampaikan pinangannya kepada Zainab bintu Jahsy رضي الله عنها. Bergegaslah Zaid memenuhi perintah Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Tatkala bertemu dengan Zainab, Zaid bin Haritsahرضي الله عنه  mengabarkan berita gembira itu, “Bergembiralah wahai Zainab, sesungguhnya Rasulullah صلى الله عليه وسلم meminang dirimu.” Tak ada yang dilakukan Zainab saat itu kecuali mengagungkan Rabb-nya. Ia pun segera menegakkan shalat di tempat shalatnya.

🎀 Siapa yang tak berbangga dengan keutamaan seagung itu? Zainab bintu Jahsy رضي الله عنهاmenjalin ikatan pernikahan dengan Rasulullah صلى الله عليه وسلم bukan melalui tangan walinya, namun dengan kalam Rabb alam semesta yang senantiasa akan dibaca oleh segenap manusia. Allah سبحانه وتعالى menikahkan dirinya dari atas ‘Arsy-Nya tanpa saksi. Tergurat peristiwa besar ini pada bulan Dzulqa’dah tahun kelima setelah hijrah, tatkala Zainabرضي الله عنها memasuki usia 25 tahun.

💎 Zainab bintu Jahsy رضي الله عنها senantiasa berbangga dengan keutamaan ini di hadapan para istri Rasulullah صلى الله عليه وسلم yang lainnya. Dia katakan, “Kalian dinikahkan oleh wali-wali kalian, sementara aku dinikahkan oleh Allah سبحانه وتعالىdari atas ‘Arsy-Nya.”

⛵Tak henti-henti keutamaan mengalir pada Zainab bintu Jahsy رضي الله عنها. Di awal langkahnya meniti kehidupan di sisi Rasulullah صلى الله عليه وسلم turun ayat yang memerintahkan tentang hijab.

🍗🍹 Kala itu, Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengundang para sahabat untuk menghadiri walimah pernikahannya dengan Zainab. Mereka pun hadir menikmati apa yang terhidang, kemudian beranjak pulang. Tinggallah beberapa orang terus duduk di sisi Rasulullah صلى الله عليه وسلم dalam waktu lama, hingga beliau pun berdiri, kemudian keluar. Ketika itu, Anas bin Malik رضي الله عنه, pembantu Rasulullahصلى الله عليه وسلم, turut bangkit bersama beliau agar orang-orang yang masih tinggal itu ikut keluar. Rasulullah صلى الله عليه وسلم terus berjalan diiringi Anas bin Malik رضي الله عنه hingga berhenti di ambang pintu kamar ‘Aisyah رضي الله عنها.

💺 Saat itu Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengira, mereka semua telah keluar, sehingga beliau pun kembali bersama Anas رضي الله عنه. Namun ketika beliau hendak masuk menemui Zainab رضي الله عنها, ternyata mereka masih terus duduk-duduk. Beliau pun keluar kembali hingga tiba di depan ambang pintu kamar ‘Aisyah رضي الله عنها. Ketika beliau mengira bahwa mereka telah bubar, beliau kembali lagi, disertai Anas bin Malik رضي الله عنه. Ternyata orang-orang itu telah keluar.

❗Peristiwa ini diiringi dengan turunnya teguran dari Allah  سبحانه وتعالى :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتَ النَّبِيِّ إِلَّا أَنْ يُؤْذَنَ لَكُمْ إِلَىٰ طَعَامٍ غَيْرَ نَاظِرِينَ إِنَاهُ وَلَٰكِنْ إِذَا دُعِيتُمْ فَادْخُلُوا فَإِذَا طَعِمْتُمْ فَانْتَشِرُوا وَلَا مُسْتَأْنِسِينَ لِحَدِيثٍ ۚ إِنَّ ذَٰلِكُمْ كَانَ يُؤْذِي النَّبِيَّ فَيَسْتَحْيِي مِنْكُمْ ۖ وَاللَّهُ لَا يَسْتَحْيِي مِنَ الْحَقِّ ۚ وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ۚ ذَٰلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ ۚ وَمَا كَانَ لَكُمْ أَنْ تُؤْذُوا رَسُولَ اللَّهِ وَلَا أَنْ تَنْكِحُوا أَزْوَاجَهُ مِنْ بَعْدِهِ أَبَدًا ۚ إِنَّ ذَٰلِكُمْ كَانَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمًا

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memasuki rumah-rumah Nabi, kecuali bila kalian telah diizinkan untuk makan, tanpa menunggu-nunggu waktu masak makanannya. Akan tetapi, apabila kalian diundang, maka masuklah, dan apabila kalian telah selesai makan, segera keluarlah tanpa memperpanjang percakapan. Sesungguhnya yang demikian itu mengganggu Nabi, dan Nabi merasa malu kepada kalian, sementara Allah tidak malu menerangkan yang benar. Apabila kalian meminta suatu keperluan kepada istri-istri Nabi, maka mintalah dari balik tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. Dan tidak boleh kalian menyakiti Rasulullah dan tidak boleh pula menikahi istri-istrinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu teramat besar dosanya di sisi Allah.” (Al-Ahzab: 53)

🚪 Rasulullah صلى الله عليه وسلم pun masuk menemui Zainab dan membentangkan tabir yang menutupi beliau dari Anas bin Malik رضي الله عنه. Saat Rasulullah صلى الله عليه وسلم bertemu dengannya itulah beliau mengganti namanya yang semula Barrah menjadi Zainab.

🌹Wanita bangsawan yang bertabur dengan kemuliaan. Salah satu wanita yang paling baik agamanya, paling takwa kepada Rabb-nya, paling benar ucapannya, paling gemar menyambung tali kasih sayang, dan paling banyak sedekahnya. Wanita yang selamat lisannya saat tersebar berita dusta tentang ‘Aisyahرضي الله عنها. Wanita yang biasa berbuat sesuatu dengan kedua tangannya, kemudian bersedekah dengan hasil buah tangannya untuk mendekatkan dirinya kepada Rabb-nya. Wanita yang sangat berhati-hati terhadap gemerlapnya dunia. Wanita yang senantiasa menundukkan diri kepada Rabb-nya. Wanita yang banyak puasa dan shalat malam. Wanita yang digelari dengan Ummul Masakin, ibu orang-orang miskin.

☔ Suatu saat di antara istri-istrinya, Rasulullah صلى الله عليه وسلم menyampaikan kabar bahwasanya yang paling dahulu menyusul beliau ke hadapan Allahسبحانه وتعالى adalah yang paling panjang tangannya. Sepeninggal Rasulullah صلى الله عليه وسلم, para istri beliau saling memanjangkan tangannya, siapa di antara mereka yang paling panjang tangannya. Demikian yang senantiasa mereka lakukan, hingga Zainab bintu Jahsy رضي الله عنها wafat. Sementara Zainab bukanlah wanita yang tinggi dan bukan pula yang paling panjang tangannya di antara mereka. Mengertilah para istri Rasulullah صلى الله عليه وسلم, yang diinginkan oleh beliau adalah yang paling banyak sedekahnya.

📝 Pada masa pemerintahan ‘Umar bin al-Khaththabرضي الله عنه tahun ke-20 setelah hijrah, wanita yang mulia ini menghadap Rabb-nya. Kenangan tentang seluruh kebaikannya tergores dengan tinta emas di atas lembaran para ulama. Ayat-ayat yang turun tentang dirinya terus dibaca oleh manusia hingga akhir masa. Zainab bintu Jahsy, semoga Allah سبحانه وتعالى meridhainya.

Wallahu a’lamu bish-shawab.

📚 Sumber Bacaan :
〰Al-Ishabah, karya al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani (7/667—669)
〰Al-Isti’ab, karya al-Imam Ibnu ‘Abdil Barr (hlm. 1849—1851)
〰Fathul Bari, karya al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani (8/383—385, 11/24)
〰Siyar a’lamin Nubala’, karya al-Imam adz-Dzahabi (2/211—218)
〰Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, karya al-Imam Ibnu Katsir (3/497—500)
〰Taisirul Karimir Rahman, karya asy-Syaikh ‘Abdurrahman as-Sa’di (hlm. 665—666)

💻 http://asysyazriah.com/zainab-bintu-jahsy/

🎀مجموعة روضة الأطفال🎀

Bagi yang ingin mengambil faedah dari postingan RA yang telah lalu, antunna dapat mengunjungi blog kami :

🔗 http://tamananakshalih.blogspot.com/